Empat Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata

- Minggu, 26 April 2026 | 08:15 WIB
Empat Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata

IDXChannel – Empat orang tewas dalam serangan Israel di distrik Nabatieh, Lebanon selatan. Begitu laporan kantor berita negara setempat.

Padahal, Israel terus membombardir wilayah itu. Gencatan senjata selama tiga minggu dengan Hizbullah? Sepertinya tidak diindahkan sama sekali.

Menurut pernyataan pusat operasi darurat Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon pada hari Sabtu, dua serangan Israel menghantam sebuah truk dan sepeda motor di kota Yohmor al-Shaqif. Akibatnya, empat orang meninggal. Informasi ini dikutip dari Kantor Berita Nasional Lebanon.

Heidi Pett, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari kota Tyre, mengatakan serangan itu terjadi di utara Sungai Litani. Di bawah sungai itu, Israel secara sepihak mengklaim wilayah operasinya. Di sisi lain, di kota Bint Jbeil, Lebanon selatan, tentara Israel dilaporkan meledakkan sebuah bangunan pada Sabtu pagi. Suasananya mencekam, katanya.

Koresponden Al Jazeera di lapangan juga melaporkan pemboman di kota Khiam. Termasuk di blok perumahan. "Serangan Israel yang sedang berlangsung ini bukan hal baru. Ini pola aktivitas militer mereka yang terus berjalan, meskipun ada yang disebut-sebut sebagai gencatan senjata," ujar Pett. Ia menggambarkan gemuruh dan dentuman ledakan menggema di seluruh wilayah selatan Lebanon. "Itu adalah Israel yang menghancurkan rumah dan bangunan," tambahnya.

Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon mencatat, sejak 2 Maret, serangan Israel telah menewaskan 2.496 orang dan melukai 7.719 lainnya. Angka yang cukup mencengangkan.

Serangan-serangan ini adalah yang terbaru. Lebanon selatan kembali gempar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada hari Kamis. Namun begitu, dalam hitungan jam, militer Israel mengklaim telah menewaskan enam pejuang Hizbullah dalam baku tembak di dekat Bint Jbeil. Kontradiktif, bukan?

(kunthi fahmar sandy)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar