Pemerintah makin serius mendorong transisi energi. Salah satunya dengan mempercepat realisasi PLTS atap. Kini, kapasitasnya sudah mencapai 1,3 Gigawatt (GW).
Angka itu, menurut sejumlah pihak, jadi langkah awal yang cukup solid. Apalagi ambisi ke depannya memang gak main-main: target pengembangan energi surya nasional tembus 100 GW.
Proyek ini sendiri bagian dari rangkaian Road to IndoSolar 2026. Semacam forum lintas sektor, tempat pemerintah, pelaku bisnis, investor, akademisi, dan mitra internasional bertemu. Tujuannya? Mengakselerasi energi surya di Indonesia.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, kasih gambaran. Dalam RUPTL PLN 2025-2034, proyeksi kapasitas PLTS terpasang ditetapkan 17,1 GW. Tapi Presiden Prabowo Subianto punya target lebih tinggi: 100 GW.
Data terakhir mencatat total kapasitas PLTS nasional sudah 1,5 GW. Dari situ, PLTS atap menyumbang 895 MW.
"Target pengembangan PLTS nasional akan mencapai 80 hingga 100 GW," ujar Eniya, Sabtu (25/4/2026).
Ia menambahkan, target ambisius ini bukan cuma soal kapasitas. Tapi juga soal menciptakan permintaan demand creation yang bisa menggerakkan industri surya dalam negeri.
Eniya menekankan, program PLTS ini punya dampak ganda. Selain memperkuat bauran energi bersih, juga jadi instrumen penting buat penyerapan tenaga kerja.
"Kami menghitung setidaknya ada 760 ribu pekerjaan baru yang bisa tercipta dari program PLTS ini," katanya.
Ke depan, pemerintah bakal diversifikasi pemanfaatan PLTS. Gak cuma mengandalkan atap bangunan rooftop tapi juga instalasi di permukaan tanah atau ground-mounted. Misalnya di puskesmas, koperasi desa, hingga mendukung ekosistem kendaraan listrik.
PLTS atap dianggap solusi strategis. Sifatnya modular, bisa dibangun cepat, dan menjangkau banyak kalangan dari rumah tangga sampai industri.
Studi Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut potensi PLTS darat Indonesia mencapai 165,9 GW. Sementara PLTS terapung 38,13 GW.
"Capaian ini menunjukkan energi surya bukan lagi potensi, tapi sudah jadi kebutuhan strategis nasional," ujar Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari.
Ia menambahkan, dengan dukungan ekosistem industri yang makin matang, AESI siap jadi mitra strategis pemerintah. Target transisi energi bukan sekadar wacana.
Saat ini, AESI menaungi 135 anggota. Mulai dari manufaktur, pengembang, teknologi, sampai lembaga sertifikasi. Semua terlibat dalam rantai pasok energi surya.
"AESI menilai inisiatif 1,3 GW PLTS atap akan jadi katalis bagi pengembangan energi surya skala besar," kata Mada.
Dengan kolaborasi konsisten antara pemerintah, PLN, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia punya peluang besar. Energi surya bisa jadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi hijau nasional.
Artikel Terkait
Kemenag Petakan 177 Hotel di Lima Wilayah Makkah untuk Haji 2026
AS Cegat Kapal ‘Armada Bayangan’ Iran di Laut Arab, Diplomasi dengan Pakistan Batal Total
Menteri Pertanian Bantah Data Swasembada Beras Rekayasa, Beberkan Kebijakan Pompanisasi hingga Cetak Sawah
Trump Batalkan Misi Utusannya ke Pakistan untuk Jajaki Dialog dengan Iran