IDXChannel – Geopolitik di beberapa negara, khususnya kawasan Timur Tengah, masih panas. Ini berpotensi mengganggu jalur distribusi dan hubungan bisnis antarnegara. Di tengah situasi yang agak runyam itu, hadirnya B57 Asia Pacific disebut-sebut bisa jadi alternatif untuk mitigasi risiko. Caranya? Lewat kolaborasi lintas sektor.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, bilang perlu ada kejelasan soal strategi jangka pendek dan menengah. Baik dari sektor publik maupun swasta. Soalnya, pelaku usaha butuh gambaran konkret mengenai peluang kerja sama yang bisa dikembangkan.
“Dengan mengedepankan kerja sama yang saling menguntungkan tanpa intervensi kepentingan politik atau agama, aktivitas bisnis diharapkan dapat berjalan lebih stabil,” ujarnya di sela Halal Bihalal B57 di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Menurut Liza, B57 Asia Pacific Chapter dengan Indonesia sebagai titik pentingnya adalah platform kerja sama bisnis yang relevan. Apalagi di tengah ketidakpastian geopolitik global kayak sekarang. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat hubungan bisnis antarnegara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Dan Indonesia, ya, jadi aktor kuncinya.
“Kehadiran platform ini berpotensi menjadi solusi dalam meredam dampak ketegangan geopolitik global. Melalui kolaborasi yang netral dan berorientasi pada keuntungan bersama, stabilitas ekonomi tetap bisa terjaga,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum B57 Asia Pacific, Arsjad Rasjid, punya pandangan sendiri. Menurut dia, dunia sekarang lagi penuh ketidakpastian dan makin terfragmentasi. Nah, kehadiran B57 Asia Pacific Regional Chapter pada Februari 2026 lalu adalah wujud nyata untuk mencapai tujuan bersama: perdamaian dan kesejahteraan yang merata.
“Sebagai mitra strategis, B57 Asia Pacific Regional Chapter berperan mendorong perdagangan antar mitra OKI. Caranya lewat structured business networks, penguatan investasi lintas negara, dan merumuskan kebijakan yang konkret. Kami juga menjembatani prioritas sektor swasta dengan agenda strategis pemerintah,” jelas Arsjad.
Kenapa Indonesia yang dipilih jadi pusat koordinasi kawasan Asia Pasifik? Ada dua alasan. Pertama, faktor demografis: Indonesia punya populasi Muslim terbesar di dunia. Kedua, pengaruh ekonomi: Indonesia konsisten di posisi tiga besar dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI).
Ada empat prioritas konkret yang ditetapkan dalam Chapter ini. Antara lain: ketahanan rantai pasok lintas batas, reformasi regulasi berbasis bukti, perluasan peran keuangan syariah, serta akses pasar dan permodalan yang lebih luas. Ya, semoga saja ini bisa bikin bisnis lintas negara makin stabil.
(kunthi fahmar sandy)
Artikel Terkait
Pemerintah Terapkan Layanan Makkah Route di Empat Bandara untuk Efisiensi Keberangkatan Haji 1447 H
Stok Beras Pemerintah Tembus 5 Juta Ton, Mentan Klaim Indonesia Tak Perlu Impor di 2025
Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Barat Laut Ternate, BMKG Imbau Warga Waspada Gempa Susulan
Pemegang Saham Warner Bros Discovery Setujui Akuisisi oleh Paramount Skydance Senilai Rp1.900 Triliun