Tanggal 22 April ternyata menyimpan banyak cerita. Bukan cuma satu atau dua, tapi beberapa peristiwa penting tercatat terjadi di hari yang sama, melintasi zaman dan benua. Dari meja perundingan kerajaan-kerajaan Eropa, kelahiran seorang pemikir besar, hingga gerakan global untuk bumi kita.
Mari kita mundur jauh ke tahun 1529. Kala itu, di sebuah kota bernama Zaragoza (atau Saragosa), Spanyol dan Portugis kembali menandatangani sebuah perjanjian. Ini seperti babak lanjutan dari Perjanjian Tordesillas yang terkenal itu. Intinya, mereka lagi-lagi membagi-bagi wilayah pengaruh, kali ini untuk belahan bumi timur.
Garis bujur ditetapkan, sekitar 17 derajat di timur Kepulauan Maluku. Hasilnya? Spanyol akhirnya mundur dari Maluku dan fokus ke Filipina. Sementara Portugis, ya, tetap bisa berbisnis rempah-rempah di sana. Semua ini tak lepas dari upaya Paus untuk meredam persaingan sengit antara dua kekuatan kolonial itu.
Beranjak ke tahun 1724, di kota Königsberg yang kini jadi Kaliningrad, Rusia, lahir seorang bayi. Namanya Immanuel Kant. Siapa sangka, anak dari keluarga sederhana ini kelak akan menjadi salah satu filsuf paling berpengaruh sepanjang masa.
Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kota kelahirannya, mengajar logika dan metafisika di universitas. Tapi yang menarik, Kant juga rutin mengajar geografi. Bagi dia, geografi bukan sekadar hafalan peta. Ia meletakkan dasar filosofisnya sebagai ilmu empiris yang mempelajari fenomena fisik dan budaya di atas bumi sebagai satu sistem yang utuh.
Lompat lagi ke era modern, tepatnya 1970. Seorang senator AS, Gaylord Nelson, punya ide. Ia ingin ada satu hari khusus untuk menyadarkan orang tentang pentingnya lingkungan. Maka dipilihlah 22 April. Kenapa tanggal ini? Katanya sih, karena di belahan utara sedang musim semi, sementara di selatan musim gugur cuacanya pas untuk aksi di luar ruangan. Sejak itulah, setiap tahun kita memperingati Hari Bumi.
Di tanggal yang sama tahun 1982, dunia sepak bola mendapat bakat baru. Ricardo Izecson dos Santos Leite, atau yang akrab disapa Kaká, lahir di Gama, Brasil. Karir cemerlangnya dimulai dari São Paulo FC, lalu melesat saat membela AC Milan. Puncaknya di 2007, ia menyabet Ballon d'Or dan gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA. Setelah melalui Real Madrid dan Orlando City, sang maestro akhirnya gantung sepatu di tahun 2017.
Yang masih segar dalam ingatan mungkin peristiwa 2015. Jakarta dan Bandung ramai oleh tamu-tamu penting dari dua benua. Ya, itulah KTT Asia-Afrika, yang pembukaannya resmi digelar di JCC Senayan, Jakarta, pada 22 April.
Presiden Joko Widodo yang membuka forum tersebut. Puncak acaranya, untuk memperingati 60 tahun Konferensi Asia-Afrika, baru digelar dua hari kemudian di Gedung Merdeka, Bandung tempat yang sarat sejarah.
Bayangkan, pertemuan itu dihadiri oleh 89 pemimpin negara dari 109 negara. Belum lagi puluhan negara pengamat dan organisasi internasional. Media dari dalam dan luar negeri juga membludak, mencapai lebih dari 1400 perwakilan.
Dari pertemuan besar itu, lahir tiga dokumen kunci: Pesan Bandung 2015, Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (NAASP), dan tak ketinggalan, deklarasi yang mendukung kemerdekaan Palestina.
Jadi, dari garis bujur di peta abad ke-16, pemikiran filsafat, hingga solidaritas global di abad ke-21, semua bertaut pada satu tanggal di bulan April. Cukup padat untuk satu hari, bukan?
Artikel Terkait
Mantan Ketua DPRD Laporkan Penulis Buku ‘Gibran End Game’ ke Polda Metro Atas Dugaan Penipuan
Pemerintah Minta Panitia Daerah Persingkat Seremonial Pelepasan Haji Antisipasi Kelelahan Jamaah
Praka Rico Pramudia Gugur Akibat Ledakan Tank Israel saat Bertugas di Misi Perdamaian PBB Lebanon
Bandara Madinah Siapkan Layanan Gratis Kursi Roda dan Mobil Golf untuk Jamaah Haji Lansia dan Disabilitas