MADINAH Kota Madinah Al-Munawwarah bersiap ramai. Gelombang pertama jemaah haji Indonesia, yang jumlahnya mencapai 103 ribu orang, akan segera tiba di kota Nabi ini. Sambutan sudah disiapkan, dan kota suci itu perlahan-lahan mulai dipenuhi nuansa kehadiran tamu-tamu Allah.
Untuk menampung mereka, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tak main-main. Sebanyak 118 hotel di tiga wilayah utama Syamaliah di utara, Janubiyah di selatan, dan Gharbiyah di barat sudah disiapkan. Tapi, persiapan ini punya tantangannya sendiri.
Soalnya, karakteristik hotel-hotel di Madinah ini beragam, terutama soal kapasitas kamar. Kapasitas sebuah hotel belum tentu pas dengan jumlah jemaah dalam satu kloter atau kelompok terbang. Alhasil, penempatan pun harus fleksibel, seringkali dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.
Konsekuensinya, bisa saja satu kloter terpencar di beberapa hotel yang berbeda. Memang agak repot, tapi menurut pihak Kemenhaj, hal ini tak akan mengurangi kualitas layanan. Mereka menjamin semua jemaah dapat pelayanan yang setara, tanpa diskriminasi.
Zaenal Mutaqin, Kepala Seksi Akomodasi Daker Madinah, menegaskan hal itu.
“Seluruh layanan yang kita berikan kepada jemaah itu sama. Mulai dari hotel, konsumsi, transportasi, hingga layanan ibadah seperti ziarah, semuanya sudah distandarkan,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Dia melanjutkan penjelasannya. Standar itu mencakup banyak hal: mulai dari urusan makan, angkutan, pengantaran bagasi, sampai program ibadah seperti city tour dan ziarah ke Raudhah. Intinya, mereka berusaha keras agar setiap jemaah merasa dilayani dengan baik.
Memang, kualitas hotelnya sendiri bervariasi. Ada yang setara bintang tiga, ada pula yang fasilitasnya mendekati standar bintang empat. Namun begitu, perbedaan ini menurut Zaenal tidak lantas membuat standar pelayanan intinya jadi berbeda.
“Memang hotelnya berbeda, tetapi standar layanannya sama. Bahkan ada hotel dengan fasilitas mendekati haji khusus, meski jemaahnya reguler,” katanya.
Di sisi lain, Kemenhaj juga punya perhatian khusus pada keutuhan kelompok. Mereka berupaya semaksimal mungkin agar jemaah dalam satu keluarga, pasangan suami istri, serta jemaah lansia beserta pendampingnya, tidak terpisah saat penempatan hotel. Upaya kecil ini diharapkan bisa memberi kenyamanan lebih di tengah perjalanan spiritual yang melelahkan namun penuh makna.
Artikel Terkait
DPR Sahkan UU Polri, Penyandang Disabilitas Kini Bisa Daftar Jadi Anggota Polisi
175 Produk Digital Selesaikan Penilaian Mandiri Kepatuhan terhadap PP Perlindungan Anak
Claro Makassar Run 2026 Digelar 28 Juni, Hadirkan Dua Kategori Baru 5K dan 10K
Trump: Israel dan Iran Sepakat Tidak Saling Serang Selama Seminggu