Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Melintas di Tengah Blokade Selat Hormuz

- Minggu, 29 Maret 2026 | 05:45 WIB
Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Melintas di Tengah Blokade Selat Hormuz

Gelombang serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari 2026 lalu benar-benar mengubah peta geopolitik. Tidak hanya fasilitas umum yang hancur dan ribuan korban berjatuhan, serangan itu juga merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran pun tak tinggal diam. Balasan datang berupa serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, diiringi langkah tegas: pembatasan ketat di Selat Hormuz.

Akibatnya? Selat vital itu praktis mengalami blokade. Padahal, ini adalah urat nadi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global. Dampaknya langsung terasa. Produksi dan ekspor minyak di kawasan terpukul, mendorong harga bahan bakar melambung tinggi di hampir seluruh penjuru dunia.

Menurut sejumlah laporan, sekitar 1.900 kapal komersial kini terkatung-katung di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz. Mereka terjebak sejak operasi militer itu dimulai. Teheran secara efektif menutup jalur itu bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan AS dan Israel, sehingga lalu lintas maritim macet total. Banyak dari kapal yang tertahan itu terpaksa membuang jangkar di perairan terbuka, menunggu situasi yang belum jelas ujungnya.

Namun begitu, pemerintah Iran menyatakan sikapnya tidak mutlak. Mereka memberi sinyal bahwa kapal dari negara lain, selain AS dan Israel, masih punya peluang untuk melintas. Syaratnya, kapal-kapal itu tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran, serta harus patuh pada semua aturan keselamatan yang berlaku. Ini jadi pengecualian di tengah kebuntuan.

Lalu, negara mana saja yang mendapat izin khusus itu? Berikut daftarnya berdasarkan pernyataan resmi berbagai pihak.

Rusia, China, India, Pakistan, dan Irak

Iran secara terbuka menyebut sejumlah negara sebagai "sahabat" yang kapalnya boleh melintas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, lewat wawancara dengan saluran Al Mayadeen yang dikutip Sputnik, menyebut nama-nama seperti Rusia, China, India, Pakistan, dan Irak.

Dia menambahkan dengan nada tegas bahwa Teheran sama sekali tidak punya alasan untuk mengizinkan "kapal-kapal musuh" lewat.

Malaysia

Di luar daftar awal itu, Malaysia juga mendapat kabar baik. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengonfirmasi bahwa kapal tanker minyak negaranya akan diizinkan melintas. Anwar, seperti dilaporkan Bernama dan dikutip Anadolu, bahkan menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Meski begitu, dia mengakui prosesnya tidak mudah. "Iran merasa telah berkali-kali ditipu dan sulit menerima langkah menuju perdamaian tanpa perjanjian yang mengikat dan jaminan keamanan," tambahnya.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar