Trump Ancam Iran dengan Masalah Belum Pernah Terjadi, Teheran Tolak Negosiasi di Bawah Blokade

- Selasa, 21 April 2026 | 12:00 WIB
Trump Ancam Iran dengan Masalah Belum Pernah Terjadi, Teheran Tolak Negosiasi di Bawah Blokade

WASHINGTON - Ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran kembali mengeras. Kali ini, Trump menyatakan Iran bakal menghadapi masalah yang "belum pernah terjadi sebelumnya" jika mereka menolak kembali ke meja perundingan. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah wawancara dengan jurnalis John Fredericks, Selasa (21/4/2026).

"Mereka akan bernegosiasi, jika tidak akan menyaksikan masalah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," tegas Trump. Meski ancamannya keras, ia tetap terlihat optimis bahwa Washington dan Teheran pada akhirnya bisa mencapai kesepakatan.

Namun begitu, jalan menuju perundingan itu sendiri masih terhalang kebuntuan. Putaran terakhir pembicaraan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April lalu, berakhir tanpa hasil. Dan kini, prospek untuk pertemuan lanjutan tampak suram.

Di sisi lain, sikap Iran jelas-jelas menolak intimidasi. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan tegas menyatakan pemerintahannya tak akan mau berunding di bawah ancaman. Posisi mereka konkret: tak akan datang ke Pakistan selama militer AS masih memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kondisi ini pun mempengaruhi jadwal diplomatik AS. Wakil Presiden JD Vance disebut-sebut menunda keberangkatannya ke Pakistan, menyusul penegasan Iran yang ogah mengirim delegasi.

Inti kebuntuan ini sederhana, tapi sulit dipecahkan. AS bersikeras blokade baru akan dibuka jika Iran menyepakati perundingan. Sebaliknya, Iran bersikukuh tak akan berunding selama blokade itu masih berlangsung. Dua posisi yang berseberangan, dan masing-masing pihak enggan mengalah duluan. Sementara itu, ancaman Trump masih menggantung, meski rincian "masalah" apa yang dimaksud tak pernah dijelaskan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar