Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, kinerja operasional Surge (WIFI) terlihat cukup solid. Perusahaan telekomunikasi yang gencar mengusung jargon "Internet Rakyat" ini berhasil mencatatkan 830 ribu pelanggan untuk layanan HomeConnect-nya. Angka yang tidak main-main.
Yang menarik, pertumbuhannya benar-benar melesat di kuartal ketiga. Jumlah pelanggan bertambah 443 ribu naik 114% dibanding kuartal sebelumnya. Ini jelas sinyal bahwa permintaan pasar terhadap layanan mereka sangat kuat. Targetnya, HomeConnect bisa menyentuh 1,5 juta pelanggan di akhir tahun.
Di sisi lain, layanan HomePass juga tak kalah perkasa. Jumlahnya sudah mencapai 1,5 juta, melonjak 72% secara kuartalan atau bertambah sekitar 634 ribu pelanggan. Ekspansi jaringan yang agresif rupanya membuahkan hasil nyata. Untuk 2025, target HomePass bahkan lebih ambisius: 2,5 juta.
Take-up rate-nya pun ikut terdongkrak naik jadi 55%, meningkat 10,7% dari kuartal sebelumnya. Fondasi infrastrukturnya sendiri semakin kokoh. Jaringan serat optik backbone nasional mereka kini membentang lebih dari 10 ribu kilometer, mencakup wilayah dari Sumatera Barat hingga Papua. Ini jadi modal penting untuk skalabilitas jangka panjang.
Presiden Direktur Surge, Yune Marketatmo, menegaskan perusahaan sedang dalam fase ekspansi.
"Surge berada dalam mode pertumbuhan, dengan prioritas pada ekspansi jaringan, akuisisi pelanggan, dan peningkatan skala platform," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (16/12/2025).
Dari sisi finansial, pendapatan hingga kuartal III-2025 mencapai Rp1,01 triliun. Angka ini tumbuh 101% secara tahunan dan 78% secara kuartalan. Pertumbuhan pesat ini terutama didorong oleh layanan Fiber-to-the-Home (FTTH).
EBITDA juga ikut meroket, naik 96% menjadi Rp697 miliar. Namun, ceritanya agak berbeda untuk laba bersih. Meski tumbuh 70% secara tahunan menjadi Rp261 miliar, angka itu justru turun 78% secara kuartalan. Ada beberapa alasan di balik ini.
Pertama, masuknya NTT e-Asia Pte Ltd sebagai pemegang saham minoritas baru di anak usaha Surge, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). Transaksi akuisisi 49% saham ini menyebabkan sekitar Rp70 miliar laba bersih dialokasikan untuk kepentingan non-pengendali. Kedua, ada kenaikan biaya keuangan. Pinjaman berbunga dan obligasi perusahaan membengkak dari Rp1,8 triliun di kuartal II menjadi Rp3,1 triliun di kuartal III.
Arus kas operasi pun terkena imbas, turun 70% secara tahunan menjadi Rp116 miliar. Lonjakan pembayaran bunga akibat pendanaan untuk ekspansi menjadi penyebab utamanya.
Namun begitu, Yune Marketatmo memandang fluktuasi ini sebagai sesuatu yang wajar dalam strategi pertumbuhan yang mereka jalani.
"Fluktuasi jangka pendek pada arus kas dan laba sejalan dengan strategi ini dan diharapkan akan menghasilkan leverage operasional yang lebih besar seiring waktu," katanya.
Ia optimis, seiring meningkatnya kepadatan jaringan dan utilisasi, grup akan punya posisi yang lebih baik.
"Kami berada pada posisi yang baik untuk membuka peluang leverage operasional dan monetisasi, khususnya melalui penetrasi FTTH, konektivitas korporasi, dan layanan bernilai tambah," tambah Yune.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020