Di tengah berbagai tekanan ekonomi global, Indonesia ternyata punya penopang yang cukup kokoh. Bukan dari komoditas migas atau mineral, melainkan dari sesuatu yang lebih mendasar: ketahanan pangan. Pemerintah menilai, kemampuan menjaga pasokan pangan ini berkontribusi langsung pada daya tahan ekonomi nasional. Bahkan, menjadi salah satu faktor penting stabilitas.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, dunia saat ini sedang menghadapi tiga krisis besar sekaligus. Pangan, energi, dan air. Semuanya berpotensi menekan perekonomian global. Namun begitu, posisi Indonesia dinilai relatif lebih aman dibandingkan banyak negara lain.
Kunci dari rasa aman itu salah satunya terletak pada stok beras. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog terus diperkuat, kini sudah mencapai 4,9 juta ton dan menuju 5 juta ton. Stok yang besar ini bukan cuma soal ketersediaan makanan. Dampaknya lebih luas: menjaga stabilitas harga di pasar dan menekan laju inflasi domestik. Hal yang sangat krusial di tengah gejolak dunia.
Persiapan ini juga disebut Amran sebagai antisipasi menghadapi ancaman El Nino. Indonesia bukanlah pemula dalam menghadapi fenomena alam ini. Pengalaman menghadapi El Nino di tahun 2015 dan 2023 menjadi pelajaran berharga.
"El Nino kita sudah hitung. El Nino sekarang ada Godzilla, itu (kemungkinan) 6 bulan. Kita sudah pengalaman, sudah dua kali El Nino. (Tahun) 2015, 2023, 2024. (Sekarang) kita sudah siapkan lebih awal. Jadi insya Allah aman,"
Demikian penjelasan Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, mengenai kesiapan negara ini.
Langkah strategis lain yang memberi dampak signifikan adalah penghentian impor beras sejak 2025. Keputusan ini ternyata membawa angin segar bagi neraca perdagangan. Tekanan terhadap devisa negara pun berkurang. Data dari United States Department of Agriculture (USDA) menunjukkan fakta menarik: Indonesia mencatat penurunan impor beras terbesar di dunia, yakni sampai 3,8 juta ton. Angka yang tidak main-main.
Di sisi lain, cerita baik juga datang dari lapangan. Kinerja sektor pertanian ternyata berbanding lurus dengan kesejahteraan para petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) tanpa perikanan konsisten bertengger di atas angka 120 sejak Juli 2024. Bahkan, pada suatu titik sempat mencapai 126,11 level tertinggi dalam kurun tujuh tahun terakhir.
Indikator lainnya, indeks harga yang diterima petani padi terus menguat. Posisi terbaru Maret 2026 ada di level 144,52, lebih tinggi ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan peningkatan pendapatan riil di tingkat petani, yang pada akhirnya mendorong konsumsi domestik. Uang yang berputar di dalam negeri.
Jadi, beginilah gambaran yang terlihat. Dengan kombinasi swasembada pangan, produksi yang menguat, dan kesejahteraan petani yang membaik, sektor pangan tak lagi dipandang sebelah mata. Ia telah bertransformasi menjadi salah satu motor penting yang menjaga stabilitas dan juga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Tangguh di Tengah Ketegangan Global
DPR Gelar Rapat Finalisasi RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Stok Beras Bulog Tembus 5 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Menteri ESDM Buka Peluang Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Lagi