Lalu, seperti apa wujud kemitraan ini? Rencananya ada tiga pilar utama. Pertama, penguatan organisasi dan kapasitas militer. Kedua, soal pelatihan dan pendidikan militer yang profesional. Ketiga, kerja sama latihan dan operasi secara langsung.
Nantinya, kedua negara akan menjajaki pengembangan teknologi pertahanan mutakhir. Mulai dari kemampuan asimetris, sistem maritim dan bawah laut, hingga teknologi otonom yang sedang tren. Tak ketinggalan, dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) akan ditingkatkan agar kesiapan operasional lebih maksimal. Pelatihan pasukan khusus bersama juga akan dipererat.
Hegseth juga menyisipkan apresiasi yang lebih personal. Dia berterima kasih atas peran Indonesia dalam membantu AS menemukan dan memulangkan jenazah prajuritnya yang gugur, termasuk dari masa Perang Dunia II.
Kerja sama ini, kata dia, akan mendukung kelanjutan upaya pemulihan jenazah oleh Defense POW/MIA Accounting Agency di wilayah Indonesia.
Kemitraan ini seolah mengukir babak baru dalam hubungan yang sebenarnya sudah lama terjalin. AS dan Indonesia telah menjadi mitra diplomatik selama lebih dari 75 tahun, tepatnya sejak 1949 tak lama setelah Indonesia merdeka. Kini, hubungan itu memasuki dimensi pertahanan yang lebih dalam dan terstruktur.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Yakinkan Investor Global di New York Soal Konsistensi Kebijakan Fiskal Indonesia
KPK Sita 1 Juta Dolar AS Terkait Dugaan Upaya Pengondisian Pansus Haji DPR
Evaluasi Awal WFH ASN Positif, Kinerja dan Pelayanan Publik Tetap Terjaga
Trump Ancam Kuba, Presiden Diaz-Canel Siapkan Perlawanan