Nah, dalam situasi seperti ini, BI berusaha memastikan kebutuhan valas bagi pelaku usaha terpenuhi. Tapi dengan catatan: untuk kegiatan ekonomi riil, bukan buat spekulasi. Itu prinsipnya.
Intervensi di pasar valas bukan satu-satunya senjata. Likuiditas rupiah juga dijaga ketat. Caranya? Melalui beragam instrumen moneter; mulai dari operasi pasar terbuka, repo, sampai pembelian SBN di pasar sekunder. Upaya ini, kata Erwin, penting agar aktivitas ekonomi tetap jalan dan perbankan punya ruang cukup untuk menyalurkan pembiayaan.
Pemantauan juga dilakukan tanpa henti. BI mengawasi dengan intens setiap gejolak di pasar global dan domestik. Dinamika pasar NDF, yang kerap jadi acuan awal pergerakan kurs di dalam negeri, juga tak luput dari pantauan.
Intinya, langkah-langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi yang belum sepenuhnya stabil. BI tampaknya siap siaga, mencoba mengarungi ketidakpastian dengan berbagai alat yang ada.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Indonesia Bantai Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF
Mendagri Tito Soroti Pengawasan Dana Otsus dan Keistimewaan, Sorot DIY Sebagai Model
Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Kuartal I 2026 Capai 5,54%, Tapi Peringatkan Pelemahan Daya Beli
Pengguna Tri Dapat Tukar Poin Jadi Voucher Diskon Hotel Mister Aladin