Jakarta, Senin (13/4/2026) – Tekanan global yang makin terasa, terutama dari ketegangan geopolitik, membuat Bank Indonesia (BI) kian gencar bertindak. Lembaga ini memperkuat intervensinya di pasar keuangan. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tak terombang-ambing.
Menurut Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, langkah ini penting untuk memastikan pasar berjalan efektif. Di sisi lain, keseimbangan antara permintaan dan pasokan valuta asing di dalam negeri juga harus dijaga.
“Kami terus melanjutkan intervensi baik di pasar global melalui Non-Deliverable Forward (NDF) maupun di domestik melalui spot dan Surat Berharga Negara (SBN), agar pergerakan nilai tukar tetap sejalan dengan fundamental,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan Erwin dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta. Dia melihat, tekanan terhadap pasar keuangan kita masih nyata. Pemicu utamanya? Arus keluar modal asing yang belum reda, didorong oleh ketidakpastian global yang makin pekat.
“Outflow dari pasar domestik masih terjadi sehingga menimbulkan tekanan terhadap permintaan dolar AS, khususnya untuk kebutuhan korporasi seperti pembayaran impor dan kewajiban utang,” kata Erwin.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Indonesia Bantai Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF
Mendagri Tito Soroti Pengawasan Dana Otsus dan Keistimewaan, Sorot DIY Sebagai Model
Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Kuartal I 2026 Capai 5,54%, Tapi Peringatkan Pelemahan Daya Beli
Pengguna Tri Dapat Tukar Poin Jadi Voucher Diskon Hotel Mister Aladin