Strategi ini sengaja diambil. Tujuannya jelas: memastikan transformasi besar-besaran ini tidak malah mengganggu layanan kepada nasabah.
“Transformasi tetap jalan, tapi layanan ke nasabah juga harus tetap terjaga,” tegas Arga.
Sebenarnya, posisi BSN sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia sudah bisa ditebak sejak lama. Saat masih menjadi Unit Usaha Syariah (UUS) di bawah BTN, kinerjanya sudah sangat menonjol.
Sebelum pisah, misalnya, pembiayaan hingga September 2025 melesat 19,7% jadi Rp51,1 triliun. Dana Pihak Ketiga juga naik 19,3% ke angka Rp56,9 triliun. Asetnya pun, per November 2025, sudah melonjak ke Rp71,3 triliun terutama setelah merger dengan Bank Victoria Syariah.
Dengan modal aset Rp76 triliun di kuartal pertama ini, eksistensi BSN di peta perbankan syariah nasional semakin kokoh. Langkah hati-hati yang mereka ambil sekarang ibarat ancang-ancang. Begitu proses transisi ini benar-benar tuntas, bukan tidak mungkin mereka akan melesat lebih kencang lagi di masa depan.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Indonesia Bantai Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF
Mendagri Tito Soroti Pengawasan Dana Otsus dan Keistimewaan, Sorot DIY Sebagai Model
Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Kuartal I 2026 Capai 5,54%, Tapi Peringatkan Pelemahan Daya Beli
Pengguna Tri Dapat Tukar Poin Jadi Voucher Diskon Hotel Mister Aladin