Industri media lagi-lagi terhuyung-huyung. Tekanan datang dari mana-mana: disrupsi digital yang belum usai, ditambah lagi gelombang baru kecerdasan buatan. Dampaknya nyata, dari pendapatan yang terus merosot sampai kepercayaan publik yang ikut terkikis. Di tengah situasi serba sulit ini, ada satu pertanyaan besar: masih relevankah jurnalisme?
Nah, pertanyaan itu coba dijawab dalam sebuah talkshow bertajuk “Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan?” Acara itu bagian dari Pesta Media AJI Jakarta 2026, digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, pada suatu Minggu di awal April 2026.
Tiga pembicara hadir memberi pandangan. Ada Wahyu Dhyatmika dari Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Abdul Manan dari Dewan Pers, dan Luviana Ariyanti, Pemimpin Redaksi Konde.co.
Luviana bicara dengan keyakinan penuh. Baginya, peran jurnalisme justru kian krusial, terutama saat krisis melanda. Ia bukan sekadar penyampai info, tapi lebih dari itu sebuah proses mencari tahu yang melibatkan verifikasi dan turun langsung ke lapangan.
Ia juga menekankan bahwa jurnalisme punya tugas mulia: memberi suara pada mereka yang kerap terpinggirkan, yang jarang dapat tempat di pemberitaan arus utama. Menurutnya, kerja jurnalistik mengajarkan untuk memikirkan orang lain, bukan cuma ekspresi diri seperti yang ramai di media sosial.
Di sisi lain, Wahyu Dhyatmika menyoroti tekanan konkret yang datang dari AI. Ia mengungkap fakta yang cukup mengerikan: dalam setahun terakhir, trafik media menyusut drastis.
Artikel Terkait
BSI Proyeksikan 83% Jamaah Haji Reguler 2026 adalah Nasabah Tabungan Haji
Tiang Listrik Keropos Ambruk di Mangga Besar, Lalu Lintas Sempat Lumpuh
Negosiasi AS-Iran Buntu, Trump Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Tiang Listrik Roboh di Mangga Besar Akibat Beban Kabel Optik, Lalu Lintas Tersendat