Jurnalisme Disebut Cahaya di Saat Gelap di Tengah Guncangan Industri Media

- Minggu, 12 April 2026 | 15:30 WIB
Jurnalisme Disebut Cahaya di Saat Gelap di Tengah Guncangan Industri Media

Parahnya, saat trafik asli turun, media justru dibebani lonjakan aktivitas bot atau crawler AI yang menyedot konten. Biaya operasional pun melambung. Wahyu menyebut situasi ini sebagai tekanan ganda, atau "double squeeze". Pendapatan dari iklan berbasis page view anjlok, sementara biaya server malah naik karena ulah bot.

Lalu solusinya apa? Wahyu mendorong pergeseran model bisnis. Dari yang mengandalkan iklan, beralih ke yang berbasis pembaca. Media, katanya, harus kembali menguasai distribusi dan membangun hubungan langsung dengan audiens. Hanya dengan begitu mereka bisa bertahan.

Sementara itu, Abdul Manan dari Dewan Pers punya sudut pandang lain. Ia yakin masalah utamanya ada di model bisnis, bukan pada nilai jurnalisme itu sendiri. Di tengah banjir informasi dan maraknya AI, publik justru semakin haus akan informasi yang terverifikasi dan bisa dipertanggungjawabkan.

Wahyu sependapat. Teknologi memang mempermudah segalanya, hingga informasi membanjir. Tapi yang sering hilang adalah konteks, keaslian, dan yang paling penting rasa percaya.

Jadi, jawabannya? Meski industri terlihat babak belur, esensi jurnalisme justru makin dibutuhkan. Sebagai cahaya di tengah gelapnya informasi, dan penjaga autentisitas di era di mana semua serba mudah, namun serba tidak pasti.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar