Parahnya, saat trafik asli turun, media justru dibebani lonjakan aktivitas bot atau crawler AI yang menyedot konten. Biaya operasional pun melambung. Wahyu menyebut situasi ini sebagai tekanan ganda, atau "double squeeze". Pendapatan dari iklan berbasis page view anjlok, sementara biaya server malah naik karena ulah bot.
Lalu solusinya apa? Wahyu mendorong pergeseran model bisnis. Dari yang mengandalkan iklan, beralih ke yang berbasis pembaca. Media, katanya, harus kembali menguasai distribusi dan membangun hubungan langsung dengan audiens. Hanya dengan begitu mereka bisa bertahan.
Sementara itu, Abdul Manan dari Dewan Pers punya sudut pandang lain. Ia yakin masalah utamanya ada di model bisnis, bukan pada nilai jurnalisme itu sendiri. Di tengah banjir informasi dan maraknya AI, publik justru semakin haus akan informasi yang terverifikasi dan bisa dipertanggungjawabkan.
Wahyu sependapat. Teknologi memang mempermudah segalanya, hingga informasi membanjir. Tapi yang sering hilang adalah konteks, keaslian, dan yang paling penting rasa percaya.
Jadi, jawabannya? Meski industri terlihat babak belur, esensi jurnalisme justru makin dibutuhkan. Sebagai cahaya di tengah gelapnya informasi, dan penjaga autentisitas di era di mana semua serba mudah, namun serba tidak pasti.
Artikel Terkait
BSI Proyeksikan 83% Jamaah Haji Reguler 2026 adalah Nasabah Tabungan Haji
Tiang Listrik Keropos Ambruk di Mangga Besar, Lalu Lintas Sempat Lumpuh
Negosiasi AS-Iran Buntu, Trump Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Tiang Listrik Roboh di Mangga Besar Akibat Beban Kabel Optik, Lalu Lintas Tersendat