Dia memperkirakan periode kritis karhutla akan dimulai Mei mendatang dan berlangsung hingga September. Puncaknya paling rawan terjadi pada Agustus-September, seiring meluasnya daerah dengan curah hujan minim.
Di sisi lain, upaya mitigasi di lapangan masih punya celah. Plt Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menekankan pentingnya memanfaatkan informasi cuaca jangka pendek.
"Dalam sepekan ke depan masih ada potensi hujan di beberapa wilayah rawan. Ini jadi kesempatan emas untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca sebelum semuanya jadi terlalu kering," kata Andri.
BMKG sendiri mengaku terus memperketat pemantauan. Mereka mengandalkan data satelit yang di-update setiap lima menit, plus sistem peringatan dini berbasis indeks kerawanan kebakaran.
Upaya lain yang sudah jalan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto, menyebut OMC telah dijalankan di sejumlah wilayah prioritas. Riau, contohnya, sejak 28 Maret lalu.
"Hasilnya cukup signifikan. Di Riau, operasi ini sudah menghasilkan tambahan curah hujan ratusan juta meter kubik untuk pembasahan lahan," papar Seto.
Dia menegaskan, pendekatan sekarang lebih mengutamakan tindakan preventif. Fokusnya pada pembasahan lahan atau rewetting. Tujuannya satu: memadamkan potensi api sedini mungkin, sebelum bara itu benar-benar berkobar.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dalam OTT Kasus Pemerasan
Polisi Lampung Gerebek Tiga Gudang Solar Ilegal, Selamatkan Potensi Kerugian Negara Rp160 Miliar
KPK Tetapkan Bupati Tulungagung Tersangka Pemerasan Rp2,7 Miliar ke OPD
Harga BBM Pertamina April 2026 Tak Berubah, Ikuti Kebijakan Pemerintah