Pemantauan Ketat dan Aksi Preventif
Menyikapi ancaman ini, BMKG tak tinggal diam. Pemantauan hotspot diperkuat secara real-time lewat data satelit yang diperbarui setiap lima menit. Sistem peringatan dini berbasis indeks kerawanan juga disiagakan.
Upaya pembasahan lahan pun sudah digeber. Tri Handoko Seto, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dijalankan di sejumlah wilayah prioritas. Riau, misalnya, jadi salah satu target sejak 28 Maret lalu.
“Operasi modifikasi cuaca di Riau telah menghasilkan tambahan curah hujan yang signifikan, mencapai ratusan juta meter kubik, sebagai upaya pembasahan lahan untuk menekan potensi kebakaran,” jelas Tri.
Pendekatannya kini lebih mengutamakan langkah preventif. Daripada memadamkan api, lebih baik menjaga lahan tetap basah sejak dini. Itu intinya.
Terakhir, sinergi lintas sektor dinilai krusial. Kepala BMKG Faisal mendorong koordinasi yang lebih rapat antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha. Data tinggi muka air tanah gambut, misalnya, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi intervensi di lapangan.
"Melalui dukungan data dan informasi yang akurat serta penguatan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, BMKG optimistis upaya mitigasi karhutla 2026 dapat dilakukan secara lebih efektif dan terkoordinasi guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan," pungkas Faisal menutup pernyataannya.
(Nadya Kurnia)
Artikel Terkait
Pemerintah Kaji Usulan Gibran Soal Hakim Ad Hoc untuk Kasus Andrie Yunus
Rismon Sianipar Klaim Video Tuding JK Didanai Roy Suryo adalah Rekayasa AI
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Diduga Terlibat Pemerasan
Survei Internasional: Jakarta Jadi Kota Teraman Kedua di ASEAN