Di sisi lain, pemerintah juga mencoba menenangkan publik terkait ketergantungan energi pada kawasan rawan. Bahlil mengungkapkan, kebutuhan Indonesia atas pasokan dari Timur Tengah sebenarnya terbatas. Impor dari sana hanya berupa minyak mentah atau crude oil, dengan porsi yang tidak dominan.
“Total yang kita ambil dari Selat Hormuz untuk crude, kita kan tidak pernah impor BBM jadi dari Timur Tengah, dari Middle East. Yang ada itu tinggal crude-nya saja, crude-nya itu sekitar 20-25 persen,” jelasnya.
Lalu, bagaimana strategi pemerintah menjaga stok agar tetap stabil? Jawabannya adalah diversifikasi. Pemerintah telah membuka dan mengalihkan pasokan dari berbagai negara lain. Untuk elpiji, misalnya, pasokan juga didatangkan dari Australia, bukan cuma mengandalkan Timur Tengah.
“Kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika dan beberapa negara lain. Jadi kita insyaAllah sudah clear lah, insyaAllah aman,” imbuh Bahlil meyakinkan.
Upaya diversifikasi sumber ini diharapkan bisa menjadi bantalan. Tujuannya jelas: menjaga ketahanan energi nasional agar tak mudah terguncang gejolak di satu kawasan tertentu.
Artikel Terkait
Harga Minyak Goreng dan Beras Naik, Cabai dan Telur Turun pada Kamis (9/4)
Iran Tuduh AS Langgar Poin-Poin Gencatan Senjata, Negosiasi Diambang Kegagalan
Pemerintah Pastikan Pasokan LPG Aman Meski Selat Hormuz Tegang
Pemerintah Siapkan Implementasi B50 Mulai Juli 2026, Proyeksi Hemat Subsidi Rp48 Triliun