Jakarta, Rabu lalu, Bank Dunia merilis laporan terbarunya. Angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 sedikit direvisi turun, dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Data ini tercantum dalam East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026. Meski turun tipis, posisi Indonesia masih terbilang lebih baik ketimbang rata-rata kawasan.
Kawasan Asia Timur dan Pasifik sendiri, yang mencakup negara-negara seperti China, Filipina, hingga Vietnam, diproyeksikan hanya tumbuh 4,2 persen tahun depan. Jadi, angka 4,7 persen untuk Indonesia bukanlah hal yang buruk.
Lalu, apa yang membayangi prospek kawasan? Menurut Aaditya Mattoo, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, setidaknya ada tiga faktor eksternal utama yang sedang bermain. Konflik di Timur Tengah yang mendorong harga energi naik adalah yang pertama. Lalu, ada gelombang pembatasan perdagangan dari Amerika Serikat plus ketidakpastian kebijakan global. Di sisi lain, ada juga perkembangan positif yang patut diwaspadai sekaligus disambut: ledakan teknologi kecerdasan buatan.
Namun begitu, Mattoo menilai Indonesia punya daya tahan yang cukup baik. Salah satu alasannya adalah soal ketergantungan energi.
Ujarnya dalam sebuah wawancara daring, Kamis (9/4). Pernyataan itu dikutip langsung dari kantor berita Antara.
Angkanya cukup jelas. Laporan itu mencatat, impor bersih minyak dan gas Indonesia pada 2024 lalu hanya sekitar satu persen dari PDB. Bandingkan dengan Thailand yang mencapai tujuh persen, atau Filipina dan Vietnam yang masing-masing tiga dan dua persen. Jadi, gejolak harga minyak dunia memang berdampak, tapi beban kita tak seberat negara tetangga.
Tapi jangan salah, dampaknya tetap ada. Guncangan global itu dipastikan bakal terasa, terutama lewat kenaikan harga minyak yang membebani anggaran negara untuk subsidi energi. Tekanan inflasi juga berpotensi naik, didorong harga pupuk yang memengaruhi biaya pangan, plus kenaikan harga semikonduktor yang berimbas ke seluruh rantai industri.
Artikel Terkait
KPK Periksa Empat Saksi Kasus Pemerasan RPTKA di Malang
Presiden Iran Tegaskan: Gencatan Senjata dengan AS Bergantung pada Penghentian Serangan Israel ke Lebanon
Pemulihan Pasca Bencana Aceh Capai 91 Persen, Fokus Beralih ke Pemulihan Sosial-Ekonomi
Dua Penumpang Lompat dari Angkot Usai Dibegal di Medan, Satu Kritis