Suasana di Sentra Industri Tempe Sanan, Malang, belakangan ini agak muram. Bukan karena cuaca, tapi gara-gara harga kedelai impor yang tiba-tiba meroket. Produsen tempe di sana dibuat pusing.
Kenaikannya cukup signifikan. Kalau sebelumnya mereka bisa dapat kedelai impor dari AS dengan harga Rp9.800 per kilogram, sekarang harganya sudah melonjak ke angka Rp10.600. Selisih delapan ratus rupiah per kilo itu terdengar kecil, tapi dalam skala produksi massal, dampaknya besar.
Lantas, bagaimana cara bertahan? Para pengrajin tempe terpaksa mengambil langkah yang mungkin langsung terasa oleh pembeli: memperkecil ukuran tempe. Ya, tempe yang dijual sekarang lebih tipis atau lebih kecil dari biasanya.
“Ya terpaksa begitu. Biaya produksi lain seperti gas dan upah karyawan juga nggak turun,” keluh salah seorang produsen yang enggan disebut namanya.
Menurutnya, langkah ini lebih masuk akal ketimbang menaikkan harga jual secara langsung. Mereka khawatir konsumen akan kabur jika harga tempe di pasaran ikut naik drastis. Jadi, daripada kehilangan pelanggan, ukurannya saja yang dikurangi. Strategi bertahan yang pahit, tapi dianggap perlu.
Di sisi lain, situasi ini memunculkan kekhawatiran baru. Kalau harga bahan baku terus merangkak naik, sampai kapa n strategi “mengecilkan” produk ini bisa bertahan? Pertanyaan itu masih menggantung, sementara asap dari penggorengan tempe di Sanan terus mengepul, membawa aroma khas yang kini dibayangi masalah ekonomi yang tak sederhana.
Artikel Terkait
Iran Peringatkan Akan Langsung Lawan Israel Jika Serangan ke Lebanon Tak Dihentikan
Dua Pilot Tewas saat Pesawat Latih Militer Taiwan Jatuh di Pangkalan Udara Gangshan
Gempa M5,1 Guncang Sarmi, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
PMI Manufaktur Indonesia Netral di 50,0 pada Mei, Produksi Masih Tertekan Harga Bahan Baku dan Konflik Global