Kalau dirinci, titik distribusinya cukup banyak. Mulai dari outlet binaan pemerintah daerah, koperasi BUMD, koperasi instansi pemerintah, sampai ke Jaringan Rumah Pangan Kita (RPK). Sekitar 80 ribu titik tersebar di berbagai wilayah.
Untuk kualitas, beras SPHP yang disalurkan adalah tipe medium sesuai standar. Kemasannya 5 kilogram, dengan tingkat pecahan sekitar 25 persen dan kadar air 14 persen. Bulog juga lagi siap-siap meluncurkan kemasan 2 kilogram. Jadi, pilihan buat konsumen nanti bakal lebih fleksibel.
Yang menarik, Rizal menegaskan bahwa penyaluran tahun ini bakal berjalan terus tanpa henti. Kebijakan ini diambil agar stabilisasi harga lebih konsisten. Tapi, bukan berarti petani dilupakan. Kondisi panen tetap jadi pertimbangan utama agar harga gabah di tingkat petani tidak anjlok.
“Penyaluran beras program stabilisasi pada 2025 tidak dilakukan sepanjang tahun. Waktu itu, saat masuk masa puncak panen, distribusi sempat dihentikan sementara,” ujarnya membandingkan.
Jadi, tahun ini berbeda. Bulog berkomitmen menjaga pasokan dan harga tetap stabil, dari Januari sampai Desember.
Artikel Terkait
Diskon Tiket Kapal Mudik Lebaran 2026 Tembus Target, 467 Ribu Penumpang Terbantu
Kejagung Panggil Jaksa Penuntut Usai Videografer Amsal Divonis Bebas
AS dan Iran Berlomba Temukan Awak F-15 yang Jatuh di Tengah Ketegangan Perang
Gaji CEO BlackRock Larry Fink Melonjak Jadi Rp640 Miliar di 2025