Pasar saham kita pekan depan diprediksi masih bakal bergoyang. Volatilitas tinggi tampaknya akan terus menghantui IHSG, didorong oleh ketidakpastian global yang makin menjadi, ditambah dengan beberapa sentimen dalam negeri yang perlu diwaspadai.
Sentimen global itu datang dari arah yang sudah bisa ditebak: Amerika Serikat. Pernyataan terbaru Presiden Donald Trump kembali memicu gejolak di pasar keuangan dunia. Imbasnya, IHSG pun ikut terperosok, anjlok 2,19 persen ke level 7.026,8 di penutupan perdagangan Kamis kemarin.
Dalam pidatonya, Trump menyebut operasi militer AS di Iran hampir rampung. Tapi, di saat bersamaan, dia juga melempar isyarat soal kemungkinan serangan lanjutan dalam dua atau tiga pekan mendatang.
Nah, pernyataan yang terkesan mendua ini justru menciptakan ketidakpastian baru. Kapan konflik benar-benar berakhir? Yang lebih penting, bagaimana nasib jalur distribusi energi global di Selat Hormuz yang vital itu?
Trump cuma bilang, jalur itu akan "terbuka secara alami" setelah perang usai. Rincian dan skema pastinya? Nihil. Tidak jelas.
Akibat situasi yang serba tak pasti ini, harga minyak mentah dunia langsung melesat. Minyak Brent melonjak 3,25 persen ke level USD104,5 per barel di pagi hari Kamis. Kenaikan belum berhenti di situ pada sore harinya, harga kembali menguat hingga menyentuh USD108,8 per barel.
Lonjakan harga energi ini, tentu saja, jadi berita buruk bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia. Sentimen pasar pun semakin suram.
Tekanan terlihat jelas di seluruh kawasan Asia. Indeks Nikkei Jepang melemah 2,38 persen. Korsel lebih parah, Kospi ambles 4,47 persen. Sementara Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,7 persen. Semua ini menggambarkan satu hal: aversi risiko investor global sedang tinggi-tingginya.
Di tengah bayang-bayang faktor eksternal yang berat, investor lokal juga disarankan untuk jeli melihat perkembangan di dalam negeri. Salah satu yang patut dicermati adalah rencana pengumuman daftar konsentrasi pemegang saham.
Aturan ini bukan main-main. Ia berpotensi mengubah dinamika perdagangan saham domestik, terutama menyangkut likuiditas dan bagaimana pasar memandang tingkat transparansinya. Bisa jadi pemicu pergerakan tersendiri nantinya.
Artikel Terkait
BPII Investasi Rp150 Miliar di Perusahaan Induk Properti, Kuasai 19,3% Saham
Proyek LNG CGAS di Karawang Terancam Molor, Baru 70 Persen
Harga BBM Nonsubsidi Serentak Naik per Mei 2026, Vivo dan BP Paling Awal Menyesuaikan
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,773 Juta per Gram, Buyback Tak Bergerak