Program Sekolah Rakyat Bangkitkan Harapan Keluarga Prasejahtera di Barito Kuala

- Minggu, 05 April 2026 | 11:45 WIB
Program Sekolah Rakyat Bangkitkan Harapan Keluarga Prasejahtera di Barito Kuala

Jakarta – Perubahan itu nyata. Bagi keluarga-keluarga yang hampir putus asa, kehadiran Program Sekolah Rakyat, hasil kolaborasi pemerintah dan Kementerian Sosial, benar-benar memberi secercah harapan. Bukan sekadar angka di atas kertas, tapi napas kehidupan baru.

Megawati (43) merasakannya langsung. Perempuan yang rumahnya berdiri di tepian Sungai Barito, tepatnya di Desa Bahalayung, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan ini, punya cerita panjang tentang perjuangan. Hidup dengan sembilan anak dan seorang suami, Abdullah (50), yang sehari-harinya mencari ikan di pematang sawah. Penghasilannya tak menentu, paling-paling Rp80 ribu sehari. Jelas tak cukup untuk mengisi perut sebelas orang.

Kondisinya pernah sedemikian parah. Mereka kerap kelaparan. Saat Ramadan, sahur cuma dengan nasi dan garam. Berbuka puasa? Hanya dengan air putih karena tak ada lagi yang bisa dimakan. Anak-anak harus menerima kenyataan pahit itu.

Di tengah himpitan itu, mimpi untuk menyekolahkan anak tak pernah padam. Tapi realita bicara lain. Kholemy Almu Dhatser, putra Megawati yang kini berusia 15 tahun, terpaksa berhenti sekolah setahun lamanya. Dia harus turun tangan, kerja serabutan apa saja demi membantu menopang keluarga.

"Kalau bukan bantuan ini, mungkin kami masih seperti dulu," kenang Megawati dalam sebuah keterangan tertulis, Minggu (5/4/2026).

Namun begitu, angin perubahan akhirnya berhembus. Program Sekolah Rakyat hadir dan menjadi titik balik. Kholemy bisa kembali duduk di bangku sekolah, kini di SRMP 20 Banjarbaru, tanpa beban biaya yang memberatkan. Pintu masa depan yang nyaris tertutup, kini terbuka lagi.

"Kalau tidak ada Sekolah Rakyat, mungkin anak saya sudah tidak sekolah lagi," ucap Megawati, suaranya penuh syukur.

Bantuan tak berhenti di situ. Melalui Sentra Budi Luhur Banjarbaru, Kemensos memberikan suntikan modal berupa warung kelontong. Hanya dalam hitungan hari, usaha kecil itu sudah menunjukkan hasil. Sekitar Rp400 ribu berhasil dihasilkan. Uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, sekaligus diputar lagi untuk mengembangkan warung.

Di sisi lain, bantuan lain juga mengalir. Mulai dari ternak ayam hingga paket kebutuhan dasar dan nutrisi. Semuanya dirancang agar keluarga ini tak hanya sekadar bertahan, tapi bisa mandiri secara ekonomi.

Bagi Megawati, semua dukungan itu ibarat air di tengah kemarau panjang.

"Serasa hidup kembali. Seperti pohon yang lama layu, sekarang mekar lagi," ungkapnya dengan nada haru.

Kisah keluarga ini, pada akhirnya, adalah bukti sederhana namun powerful. Bahwa intervensi negara yang tepat, lewat Sekolah Rakyat dan bantuan sosial yang menyeluruh, bukan cuma menjaga anak-anak tetap belajar. Tapi juga, pelan-pelan, mengangkat harkat hidup sebuah keluarga dari lembah kesulitan. Memberi mereka pijakan untuk berdiri, dan akhirnya, berjalan sendiri.


Editor: Redaktur

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar