Jakarta – Perubahan itu nyata. Bagi keluarga-keluarga yang hampir putus asa, kehadiran Program Sekolah Rakyat, hasil kolaborasi pemerintah dan Kementerian Sosial, benar-benar memberi secercah harapan. Bukan sekadar angka di atas kertas, tapi napas kehidupan baru.
Megawati (43) merasakannya langsung. Perempuan yang rumahnya berdiri di tepian Sungai Barito, tepatnya di Desa Bahalayung, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan ini, punya cerita panjang tentang perjuangan. Hidup dengan sembilan anak dan seorang suami, Abdullah (50), yang sehari-harinya mencari ikan di pematang sawah. Penghasilannya tak menentu, paling-paling Rp80 ribu sehari. Jelas tak cukup untuk mengisi perut sebelas orang.
Kondisinya pernah sedemikian parah. Mereka kerap kelaparan. Saat Ramadan, sahur cuma dengan nasi dan garam. Berbuka puasa? Hanya dengan air putih karena tak ada lagi yang bisa dimakan. Anak-anak harus menerima kenyataan pahit itu.
Di tengah himpitan itu, mimpi untuk menyekolahkan anak tak pernah padam. Tapi realita bicara lain. Kholemy Almu Dhatser, putra Megawati yang kini berusia 15 tahun, terpaksa berhenti sekolah setahun lamanya. Dia harus turun tangan, kerja serabutan apa saja demi membantu menopang keluarga.
Namun begitu, angin perubahan akhirnya berhembus. Program Sekolah Rakyat hadir dan menjadi titik balik. Kholemy bisa kembali duduk di bangku sekolah, kini di SRMP 20 Banjarbaru, tanpa beban biaya yang memberatkan. Pintu masa depan yang nyaris tertutup, kini terbuka lagi.
Artikel Terkait
Sidibe Cetak Brace, Bhayangkara FC Kalahkan Persija 3-2 dalam Drama Injury Time
Bali United Hadapi PSBS Biak Tanpa Penonton di Kandang
Masih Ada Empat Long Weekend di Sisa 2026 Setelah Paskah
Truk TNI Angkut Siswa SD Terlibat Kecelakaan Maut di Kalideres, Satu Tewas