Komoditas lain juga tak ketinggalan. Harga daging, misalnya, indeksnya naik 1 persen bulanan dan 8 persen tahunan. Produk susu juga naik 1,2 persen, meski secara tahunan masih lebih rendah.
Dari Pom Bensin ke Piring Makan
Nah, hubungan antara energi dan pangan ini ternyata lebih rumit. Harga minyak yang tinggi nggak cuma bikin ongkos kirim mahal, tapi juga mengubah strategi produksi. Ambil contoh gula.
Brasil, eksportir gula terbesar dunia, dikabarkan mulai mengalihkan lebih banyak tebu untuk dijadikan etanol. Alasannya sederhana: saat harga minyak mentah mahal, produksi biofuel jadi lebih menggiurkan secara ekonomi. Alhasil, pasokan gula untuk konsumsi pun bisa terpengaruh.
“Belum lagi ada kekhawatiran baru soal dampak konflik di Timur Tengah terhadap jalur perdagangan gula. Ini jadi tekanan tambahan,”
tambah FAO.
Jadi, ceritanya nggak sesederhana panen yang gagal. Ada banyak faktor yang saling terkait, dari geopolitik sampai kebijakan energi, yang akhirnya menentukan berapa harga sekilo gula atau sebotol minyak goreng di pasar. Situasinya memang kompleks, dan efeknya langsung kita rasakan.
Artikel Terkait
Manchester City Hancurkan Liverpool 4-0, Haaland Cetak Hattrick ke Semifinal Piala FA
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Tiga Lainnya Terluka
Industri Otomotif Usulkan Ganti Pajak Bensin dengan Tarif Berbasis Berat Kendaraan
Libur Panjang Paskah, 352 Ribu Kendaraan Padati Gerbang Tol Keluar Jabotabek