Gubernur Jateng Tinjau Banjir Demak, Tekankan Penanganan dari Hulu ke Hilir

- Sabtu, 04 April 2026 | 23:15 WIB
Gubernur Jateng Tinjau Banjir Demak, Tekankan Penanganan dari Hulu ke Hilir

DEMAK – Suasana di Kantor Kecamatan Guntur, Sabtu (4/4/2026) lalu, ramai namun lesu. Di ruang utama, puluhan warga terdampak banjir beristirahat di atas tikar darurat. Beberapa lainnya duduk di teras, menatap jauh, seolah menunggu kabar baik dari rumah mereka yang terendam.

Di tengah kondisi itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi hadir. Ia bukan cuma meninjau, tapi juga langsung berdialog dengan para pengungsi. Luthfi tampak menyimak keluh kesah warga sebelum kemudian menyerahkan bantuan secara simbolis. Bantuan itu sendiri jumlahnya tak sedikit, mencapai lebih dari Rp 236 juta. Sumbernya beragam, mulai dari BPBD, Dinas Sosial, Ketahanan Pangan, hingga PMI Jateng.

Namun begitu, bagi Luthfi, penyerahan bantuan itu baru langkah awal. Persoalan yang dihadapi jauh lebih kompleks.

“Kita mengatasi banjir ini tidak bisa parsial,” tegasnya usai menggelar rapat terbatas dengan Bupati Demak Eisti’anah dan jajarannya.

Ia menegaskan, penanganan harus komprehensif, menyeluruh dari hulu ke hilir. Parsial, kata dia, hanya akan jadi solusi sementara yang mudah terulang.

Selain soal infrastruktur, Luthfi juga menekankan hal yang lebih mendasar: pemenuhan kebutuhan warga. Di tengah situasi darurat, layanan dasar harus tetap jalan.

“Prinsipnya layanan dasar kepada masyarakat terdampak harus terpenuhi, mulai sekolah, kesehatan, bahan pokok, makanan, dan lain sebagainya tidak boleh ketinggalan,” ujarnya.

Cerita dari lapangan datang dari Musri’ah, warga Desa Trimulyo. Ia masih jelas mengingat detik-detik air mulai menerjang. “Kejadiannya sekitar pukul 10.00 WIB, saya di rumah. Tiba-tiba airnya mengalir deras sekali dari tanggul, lama-lama jebol,” kenangnya.

Keadaan makin kritis jelang sore. Air terus merangkak naik, tak memberi banyak pilihan. “Setelah ashar kami dijemput perahu, waktu itu airnya udah setinggi dada,” tambah Musri’ah, menggambarkan betapa cepatnya bencana itu melanda.

Banjir yang dipicu jebolnya tanggul Sungai Tuntang pada Jumat (3/4) itu dampaknya luas. Delapan desa di empat kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung terendam. Data sementara mencatat, hampir 2.839 jiwa terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah dan harta mereka yang belum jelas nasibnya.

Kini, setelah kunjungan dan rapat itu, semua mata tertuju pada langkah konkret berikutnya. Warga di pengungsian tak hanya butuh sembako, tapi juga kepastian kapan mereka bisa pulang dan memulai lagi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar