PT Vale Indonesia Tbk masih memfokuskan kegiatan pada tahap eksplorasi tambang nikel di Blok Tanamalia, Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Langkah ini dinilai krusial untuk menjustifikasi kelayakan pengembangan tambang sebelum perusahaan melangkah ke investasi hilirisasi terpisah, seperti pembangunan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk mengolah nikel kadar rendah (limonit).
Terkait potensi kemitraan strategis, raksasa otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW), melalui PowerCo sebelumnya telah menunjukkan minat kuat untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia dengan berkolaborasi bersama Vale, Ford, dan Huayou.
Sementara itu, PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan operasional smelter tembaga kedua mereka di Manyar, Gresik, untuk dimulai kembali pada September 2026. Langkah pemulihan ini diambil setelah pasokan konsentrat tembaga dari tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Papua terhambat akibat tragedi tanah longsor. Dampak dari insiden tersebut menekan tingkat produksi perusahaan hingga hanya mencapai 65 persen dari total kapasitas sepanjang tahun 2026. Kendati demikian, PTFI memproyeksikan tingkat produksi akan pulih secara bertahap ke angka 80 persen pada pertengahan tahun 2027 dan mendekati kapasitas penuh 100 persen pada akhir tahun 2027.
Meskipun volume produksi menyusut, manajemen memastikan kontribusi kepada negara serta pembayaran dividen tetap berjalan optimal. Untuk memaksimalkan hilirisasi, PTFI mengandalkan porsi kepemilikan saham sebesar 66 persen di PT Smelting guna menyerap pasokan tembaga seiring dengan pemulihan tambang.
Saat ini, pasokan konsentrat dari Papua mulai dialirkan ke Manyar untuk memenuhi volume minimum sebelum proses pembakaran di furnace dimulai. Sementara itu, Pabrik Pemurnian Logam Mulia (PMR) di Manyar masih beroperasi dalam kapasitas terbatas pascainsiden luapan lumpur eksternal pada September 2025.