PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengonfirmasi penerimaan surat pengunduran diri Budiawansyah dari jabatannya sebagai Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer. Pengunduran diri tersebut disampaikan pada 20 Agustus 2026 dan akan diproses lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Corporate Secretary Vale Indonesia, Ranty Astari Rachman, menyatakan bahwa keputusan ini murni bersifat pribadi, terkait dengan pertimbangan keluarga. "Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Perseroan akan mengajukan permohonan pengunduran diri tersebut untuk memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan yang akan datang," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (22/8).
Meski ada perubahan di jajaran direksi, Vale Indonesia memastikan kegiatan operasional dan agenda perusahaan tetap berjalan seperti biasa. Informasi lebih lanjut mengenai susunan direksi yang baru akan disampaikan sesuai dengan prinsip keterbukaan informasi dan tata kelola perusahaan.
Budiawansyah baru menjabat sebagai Direktur Vale Indonesia sejak 28 Juli 2025, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Penunjukannya bersamaan dengan Bernardus Imanto sebagai Presiden Direktur dan Chief Executive Officer. Masa jabatan mereka seharusnya berlangsung hingga RUPS Tahunan 2027.
Sebelum pengunduran diri ini, Budiawansyah masih aktif memaparkan rencana pengembangan proyek nikel baru perusahaan. Salah satunya adalah Blok Tanamalia yang ditargetkan mulai beroperasi sekitar tahun 2029 dan 2031. Proyek ini juga akan menjadi bagian dari rencana pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik di kawasan konsesi tambang Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Dalam kesempatan media pada Kamis (13/8), Budiawansyah menjelaskan bahwa pengembangan Blok Tanamalia masih dalam tahap kajian eksplorasi dan penelitian. Proyek tersebut akan diproses setelah proyek IGP Sorowako selesai. "Habis itu 2029-2031 itu Tanamalia. Harapan kita studi detail eksplorasinya berjalan di Tanamalia sehingga kita bisa memastikan lagi kandungan sumber daya dan cadangannya yang ada, dari situ sebagai dasar seberapa lama ini life of mine-nya," jelasnya.
Menurut Budiawansyah, pembahasan Blok Tanamalia belum sampai pada desain proyek. Perusahaan masih perlu memastikan kuantitas cadangan nikel di pertambangan sebelum menentukan pengembangan industri baterai seperti proyek-proyek lainnya.
Vale Indonesia saat ini memiliki tiga proyek smelter terintegrasi dalam Indonesia Growth Project (IGP), yaitu IGP Pomalaa, IGP Morowali-Bahodopi, dan IGP Sorowako. Proyek terakhir diprediksi rampung pada tahun 2027. Sementara itu, Blok Tanamalia masih berada dalam tahap front end loading (FEL) kedua hingga akhir tahun ini.
Artikel Terkait
PT Vale Indonesia Fokus Eksplorasi Blok Tanamalia, Smelter Manyar Freeport Ditargetkan Pulih September 2026
Vale Indonesia Fokus Eksplorasi Blok Tanamalia, Rencana Smelter Terpisah