PT Vale Indonesia Tbk masih berada pada tahap eksplorasi untuk proyek pertambangan nikel di Blok Tanamalia, yang terletak di konsesi tambang perusahaan di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernardus Imanto, menegaskan bahwa saat ini prioritas perusahaan adalah menyelesaikan tahap eksplorasi sebelum melangkah ke rencana investasi hilirisasi.
"Kita masuk eksplorasi, kemudian nanti kan investasi untuk hilirisasinya kan terpisah gitu ya. Jadi kita fokus dulu untuk bisa mengeksplorasi, untuk men-justify pengembangan tambang," ujarnya saat ditemui di acara Peluncuran dan Bedah Buku Bahlil Lahadalia, Sabtu (8/8).
Soal mitra strategis untuk proyek tersebut, Bernardus enggan berkomentar banyak. Ia tidak membenarkan maupun membantah kabar bahwa perusahaan otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW), yang sebelumnya menyatakan ketertarikan, akan menjadi mitra. Ia hanya menyebut mitra tersebut akan terlibat dalam pengembangan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang mengolah nikel kadar rendah (limonit).
"Kalau itu memang sudah formal, pasti kan di-announce. Ini kan ada confidentiality segala macam, jadi saya enggak bisa ngomong banyak sih," tegas Bernardus.
Dialog dengan Masyarakat
Selain urusan teknis, Bernardus mengungkapkan bahwa dialog dengan masyarakat di sekitar Blok Tanamalia, yang sebagian wilayahnya beririsan dengan kawasan hutan lindung, masih terus berlangsung. Perusahaan berkomitmen menyelesaikan persoalan tersebut secara humanis.
"Intinya kita harus tetap patuh hukum, kemudian kita menyadari ada masyarakat di sana, sebisa mungkin kita upayakan penyelesaiannya adalah penyelesaian yang humanis lah," tandasnya.
Sebelumnya, VW telah menyatakan minatnya untuk bekerja sama dengan Vale Indonesia setelah mengunjungi langsung tambang di Sorowako. Ketertarikan itu juga disampaikan oleh Bahlil Lahadalia, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Menurut Bahlil, VW melalui PowerCo akan membangun ekosistem baterai mobil di Indonesia bersama sejumlah perusahaan, termasuk Vale Indonesia, Ford, dan Huayou yang sedang membangun smelter di Sulawesi Selatan.
Adapun kewenangan eksplorasi di kawasan hutan Tanamalia diberikan kepada Vale Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nomor SK850MenLHK/Setjen/PLA.0/10/2021. SK tersebut mencakup hak dan kewajiban PT Vale dalam mengelola kawasan hutan seluas 17.239,28 hektare (Ha) di Kawasan Hutan Lindung Tanamalia.
Namun, di kawasan tersebut terdapat aktivitas perkebunan tanaman lada. Berdasarkan data KLHK, ada sekitar 2 juta tiang tanaman merica di dalam areal seluas 800 hektare. Untuk itu, perusahaan terus melakukan dialog bersama masyarakat terdampak terkait eksplorasi proyek tersebut.
Artikel Terkait
Laba Vale Indonesia Meroket Empat Kali Lipat di Semester I-2026