PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba bersih USD104 juta atau setara Rp1,87 triliun pada semester I-2026, melonjak empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD25 juta. Kinerja keuangan yang solid ini didorong oleh peningkatan produksi, penguatan harga nikel, serta disiplin operasional.
Pendapatan perusahaan tambang nikel itu mencapai USD543 juta, naik 28 persen dari USD423 juta pada semester I-2025. EBITDA juga meningkat signifikan, yakni 113 persen menjadi USD196 juta. Harga realisasi rata-rata nikel matte naik 21 persen menjadi USD14.491 per ton, meskipun volume penjualan nikel matte turun 21 persen menjadi 27.659 ton.
Pada periode yang sama, PT Vale merealisasikan belanja modal sekitar USD116 juta untuk mendukung keberlanjutan operasi dan pengembangan proyek strategis. Posisi kas dan setara kas per 30 Juni 2026 tercatat sebesar USD111 juta, terutama akibat aktivitas investasi yang terus berjalan.
Proyek Hilirisasi dan Autoclave
Dalam pengembangan bisnis hilirisasi, PT Vale bersama GEM Co., Ltd. dan EcoPro mencatat tonggak penting melalui kedatangan autoclave untuk proyek HPAL Sambalagi dalam Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. Fasilitas utama ini menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.
"Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional," kata Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Bernardus menambahkan, perseroan akan terus memperkuat fondasi produksi melalui disiplin operasional dan peningkatan kapasitas tambang. "Ke depan, Perseroan akan terus mempercepat pengembangan proyek-proyek HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yaitu produk antara yang sangat penting dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik," ujarnya.
Secara operasional, produksi nikel matte pada semester I-2026 mencapai 29.773 ton, lebih rendah dibandingkan 35.584 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, produksi kuartal II-2026 meningkat 19 persen secara kuartalan menjadi 16.153 ton dari 13.620 ton pada kuartal I-2026. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan kinerja setelah rampungnya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3, sekaligus menjaga keandalan operasi di tengah dinamika pasar nikel global.
Selain bisnis nikel matte, PT Vale mencatat pertumbuhan signifikan pada penjualan bijih nikel melalui tiga hub pertambangan: Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Blok Bahodopi mencatat penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,96 juta wet metric ton (wmt) sepanjang semester I-2026, sementara Blok Pomalaa membukukan penjualan bijih nikel sebesar 1,35 juta wmt pada periode yang sama.
Artikel Terkait
Pendapatan HATM Tembus Rp519,96 Miliar di Semester I, Mitra Usaha Topang Prospek Bisnis
Harga Komoditas Mayoritas Terkoreksi, Timah dan CPO Jadi Pengecualian
Harga Komoditas Bervariasi: CPO Melemah, Batu Bara dan Nikel Menguat
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi dalam Enam Pekan, Batu Bara Terkoreksi