Di sisi lain, program prioritas tahun depan sudah disiapkan. Fokusnya adalah pariwisata berkualitas yang berkelanjutan dan, yang tak kalah penting, aman. Rencananya, akan ada peningkatan keselamatan destinasi lewat sertifikasi pemandu dan pemetaan kawasan rawan bencana. Selain itu, lebih dari 6.200 desa wisata di seluruh Indonesia akan dikembangkan.
Tapi, tantangannya nyata dan berat. Widiyanti tak menampik dampak dari perang di Timur Tengah. Baru-baru ini, penutupan wilayah udara Iran memicu gelombang pembatalan penerbangan. Sekitar 770 penerbangan menuju Jakarta, Bali, dan Medan dibatalkan. Kerugiannya? Bisa mencapai Rp 2,04 triliun. Angka yang fantastis.
“Dinamika geopolitik global tentu memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata. Namun kami terus melakukan langkah-langkah mitigasi agar target kinerja pariwisata nasional tetap terjaga,” tuturnya.
Belum lagi soal harga minyak. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini menembus di atas 102 dolar AS per barel jadi beban tambahan. Industri transportasi terpaksa menerapkan fuel surcharge, yang pada akhirnya bisa memengaruhi biaya perjalanan wisatawan.
Jadi, situasinya memang kompleks. Tapi Widiyanti tampak optimis. Kolaborasi, katanya, adalah kunci utama.
“Kami percaya bahwa dengan kolaborasi seluruh kementerian dan lembaga, serta dukungan DPR RI, sektor pariwisata Indonesia akan tetap tangguh dan mampu menjaga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Justin Hubner Tak Tahu Soal Polemik Paspor yang Seret Rekan Setimnasnya
JK Kritik WFH ASN: Khawatirkan Penurunan Produktivitas dan Layanan Publik
Bareskrim Sita 6 Kg Emas dan Rp1,4 Miliar dalam Pengembangan Kasus Pencucian Uang Tambang Ilegal
Operasi Ketupat 2026 Berakhir, Angka Kematian Kecelakaan Turun Drastis 31%