Gunungan sampah di Pasar Kramat Jati ternyata tak cuma bikin bau. Tembok pembatasnya sampai jebol. Sementara di Slipi, jalanan juga dipenuhi tumpukan sampah yang mengganggu. Melihat kondisi itu, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, mendesak Pemprov DKI untuk segera bertindak.
Menurutnya, situasi darurat ini muncul karena akses ke TPST Bantargebang sempat dibatasi pascalongsor. Nah, pembatasan di hilir itu langsung bikin efek berantai ke titik-titik penampungan lain.
"Menurut saya kondisi ini menunjukkan sistem pengelolaan sampah kita masih belum siap menghadapi pembatasan di hilir seperti di Bantargebang, sehingga dampaknya langsung terasa di TPS dan jalanan. Dalam jangka pendek, Pemprov harus segera lakukan langkah darurat," tegas Wibi kepada wartawan, Kamis (2/4).
Lalu, apa yang bisa dilakukan sekarang? Wibi punya beberapa usulan. Pertama, pengangkutan dan redistribusi sampah ke titik lain harus dioptimalkan. Fasilitas pengolahan sementara, seperti TPS 3R dan RDF di Rorotan, Jakarta Utara, juga perlu diaktifkan.
"Optimalkan pengangkutan dan redistribusi sampah ke titik lain, aktifkan fasilitas pengolahan sementara (TPS3R/RDF)," ujarnya.
Tak cuma itu. Koordinasi antar wilayah harus diperkuat agar sampah tidak numpuk di satu tempat saja. Yang tak kalah penting, pengawasan di lapangan. Dengan pengawasan ketat, kejadian tembok jebol seperti di Kramat Jati diharapkan tak terulang.
"Serta perkuat koordinasi lintas wilayah agar tidak terjadi penumpukan di satu titik. Di saat yang sama, pengawasan di lapangan harus ditingkatkan supaya kejadian seperti tembok jebol di Kramat Jati tidak terulang, karena ini sudah masuk aspek keselamatan warga, bukan sekadar soal kebersihan," jelasnya.
Dua Titik Tembok Ambrol
Lantas, bagaimana kondisi sebenarnya di Kramat Jati? Tembok pembatas yang memisahkan gunungan sampah dari kali dan permukiman warga itu ambrol di dua titik. Sampah pun meluber ke mana-mana.
Dari pantauan di lokasi, Selasa (31/3) lalu, tembok itu persis di sisi kali. Ada dua bagian yang jebol. Satu bagian lebar, sekitar 10 meter. Satunya lagi lebih kecil, kira-kira 2 meter.
Tuswadi, warga setempat, bercerita. Tembok yang jebol 2 meter itu terjadi sekitar pertengahan Maret. "Jebolnya malam-malam gitu," katanya. Sementara yang ambrol besar sudah terjadi sekitar dua bulan lalu.
Rumah Tuswadi memang dekat dengan lokasi. Ia mengaku sangat terganggu dengan bau menyengat yang datang dari tumpukan sampah itu setiap hari.
Persoalan serupa terjadi di wilayah lain. Di Slipi, Jakarta Barat, tumpukan sampah memenuhi jalan. Bau tak sedap dan air lindi yang meluber ke badan jalan jelas mengganggu kenyamanan pengendara.
Sepanjang Jalan Inspeksi hingga mendekati Pasar Palmerah, tumpukan-tumpukan sampah itu terlihat menggunung. Pemandangan yang seharusnya tak terjadi di ibu kota.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Buka Layanan Perpanjangan SIM Keliling di Lima Titik Jakarta, Jumat 29 Mei 2026
Jemaah Umrah Rugi Rp78 Juta, Laporkan Hanania Travel ke Polda Metro Jaya
Balita Tewas Ditusuk Belasan Kali di Bekasi, Pelaku Diduga Paman dengan Gangguan Jiwa
Tim SAR Gabungan Akhirnya Temukan Nelayan yang Hanyut di Sungai Batang Toru dalam Kondisi Meninggal