Di tengah wacana penerapan work from home bagi ASN, suara kritis datang dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia mengakui, kebijakan WFH satu hari dalam seminggu memang punya satu sisi positif: penghematan BBM untuk para pegawai. Tapi, menurutnya, dampak buruknya jauh lebih besar.
"Artinya ada efektifnya, yaitu penghematan bahan bakar bagi pegawai," ujar JK kepada para wartawan di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu lalu.
Namun begitu, kalimat selanjutnya ia sampaikan dengan nada tegas. "Tetapi efeknya mereka tidak kerja. Itu layanan pemerintah itu besar sekali."
Kekhawatirannya jelas: layanan publik bisa terganggu. Pegawai malah jadi malas bekerja. Dan itu baru permulaan. Menurut sejumlah analis, dampaknya bisa merembet ke mana-mana.
JK lalu mengingatkan soal sektor riil. Bayangkan jika pola ini ditiru oleh kalangan pengusaha dan pekerja di sektor produksi. Hasilnya bisa diprediksi.
"Apalagi kalau masih diminta pengusaha lagi, bagaimana penjualan, bagaimana produksi? Akan turun. Itu bahayanya akibatnya ini," tegasnya.
Di sisi lain, ia punya pandangan yang lebih luas tentang bagaimana seharusnya negara menyikapi tekanan. Ancaman krisis justru harus jadi pemicu untuk bekerja lebih keras, bukan alasan untuk bersantai. Pemerintah, dalam pandangannya, punya tugas penting untuk mendorong semangat ini.
"Nah, jangan kita mendidik, mengajar, memberikan budaya kalau ada masalah suruh istirahat, jangan," ucap JK.
Ia menekankan, momentum sulit ini justru menuntut produktivitas ekstra. "Ini dalam kondisi krisis ini kita harus lebih produktif, harus bekerja dengan betul. Pabrik-pabrik harus bekerja betul, pegawai atau karyawan harus bekerja dengan betul untuk mengatasi masalah ini. Jangan pulang ke rumah."
Peringatannya jelas: solusi yang terlihat sederhana dan menguntungkan di satu sisi, bisa membawa konsekuensi panjang yang justru memperparah keadaan.
Artikel Terkait
Inggris Pastikan Sembilan Wakil di Kompetisi Eropa Musim 2026-2027
Prabowo Apresiasi Prancis sebagai Pelopor Solusi Dua Negara untuk Palestina
Iduladha Dorong Rantai Pasok Ekonomi Kerakyatan, Danareksa: Peternak Hingga Sopir Truk Ikut Terdampak
Prabowo Instruksikan Bahasa Prancis Masuk Kurikulum Sekolah di Indonesia