Bermain untuk Persib Bandung adalah mimpi masa kecil Dedi Kusnandar. Tapi, hidup seringkali berjalan tak terduga. Gelandang legendaris itu justru harus dua kali menolak tawaran bergabung dengan Pangeran Biru di awal kariernya. Padahal, saat itu usianya masih sangat muda.
Jalan Dedi, yang akrab dipanggil Dado, memang dimulai dari Bandung. Setelah belajar di SSB UNI Bandung, ia sempat membela Persib U-21. Namun, karier profesionalnya justru dimulai di tempat lain: Pelita Jaya. Di sanalah ia mulai dikenal.
Menurut sejumlah saksi, sebenarnya kesempatan untuk balik ke Persib sempat terbuka lebar. Setelah diasuh oleh Djadjang Nurdjaman di Pelita Jaya U-21, tawaran konkret itu datang di tahun 2012. Saat itu, Persib menginginkannya.
Dado mengakuinya. Dalam ingatannya, setidaknya ada dua momen di mana ia harus menggeleng, meski berat hati. Keputusan itu punya konsekuensi. Ia terpaksa melewatkan momen bersejarah Persib meraih gelar juara Liga Indonesia di tahun 2014. Suatu pencapaian yang pasti sangat ingin ia rasakan.
Namun begitu, di balik penolakan itu ada hikmahnya. Justru di periode yang sama, performanya yang konsisten membuka pintu lain yang tak kalah membanggakan: menjadi andalan di tim nasional Indonesia. Jadi, meski harus menunggu lebih lama untuk akhirnya mengenakan jersey biru, jalan yang ia lalui ternyata membentuknya menjadi pemain yang lebih matang.
Ceritanya mengingatkan kita bahwa dalam sepak bola, seperti dalam hidup, timing adalah segalanya. Kadang, mimpi tertunda bukan berarti hilang. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk terwujud.
Artikel Terkait
Remaja 19 Tahun Perkosa dan Bunuh Bocah SD di Makassar, Polisi Jerat Pasal Pembunuhan Berencana
Pakar IPB Ingatkan Pentingnya Kemasan Food Grade untuk Daging Kurban demi Cegah Kontaminasi
Militer AS Tewaskan 194 Orang dalam Operasi Antinarkoba di Pasifik Timur, Pentagon Mulai Evaluasi
Prabowo Penuhi Undangan Kedua Macron, Kunjungan Kenegaraan ke Paris Jadi Agenda Balasan