Di ruang sidang Dewan Keamanan PBB yang tegang, Wakil Tetap RI, Duta Besar Umar Hadi, tak bisa menyembunyikan gejolak di hatinya. Rasa duka bercampur kemarahan menyelimuti pernyataannya. Ini semua menyusul serangan keji terhadap pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di Lebanon, di bawah bendera UNIFIL.
Sidang darurat itu sendiri digelar atas desakan Indonesia bersama Prancis. Langkah ini, menurut sejumlah pengamat, bukan hal mendadak. Ini adalah wujud nyata dari komitmen Jakarta yang sudah berlangsung lama terhadap misi pemelihara perdamaian PBB.
Umar Hadi dengan tegas mengutuk serangan pada akhir Maret lalu. Peristiwa tragis itu merenggut nyawa tiga prajurit Tanah Air dan melukai lima lainnya. Suaranya bergetar menyebut angka-angka itu.
Menurut Indonesia, akar masalahnya jelas: eskalasi ini dipicu oleh serangan militer Israel yang terus menerus. Mereka dinilai telah melanggar kedaulatan Lebanon berulang kali. Bahkan, serangan-serangan semacam ini bukan cuma ancaman lokal. Ini adalah ancaman langsung bagi perdamaian global dan bisa digolongkan sebagai kejahatan perang di bawah hukum internasional.
“Biar saya perjelas,” tegas Umar Hadi, dengan nada yang tak terbantahkan.
“Kami menuntut penyelidikan langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan sekadar alasan-alasan dari Israel.”
Artikel Terkait
Israel Bantah Keterlibatan dalam Ledakan yang Tewaskan Prajurit TNI di Lebanon, Tuding Hizbullah
Pemerintah Dorong WFH Satu Hari per Minggu, Sektor Vital Dikecualikan
Project Hail Mary Raih Pendapatan Global 322 Juta Dolar dalam Kurang Sebulan
Wamenhub: Dampak Perang AS-Israel-Iran Tak Terasa, Penerbangan Domestik Tetap Tumbuh