Masih belum genap sebulan tayang, tapi Project Hail Mary sudah melesat. Film sci-fi terbaru yang dibintangi Ryan Gosling itu berhasil menduduki posisi kedua film terlaris global untuk Maret 2026. Pendapatannya? Tercatat sudah menyentuh angka 322,43 juta dolar AS dan masih terus bertambah.
Peluangnya untuk meraup lebih banyak lagi masih terbuka lebar. Ingat saja, di awal pekan penayangannya, film ini langsung meraup 140,9 juta dolar secara global. Angka yang cukup fantastis.
Ini bukan kali pertama karya Andy Weir diadaptasi dengan sukses. Sebelumnya, The Martian yang rilis tahun 2015 sukses besar dengan pendapatan kotor mencapai 630 juta dolar. Padahal, biaya produksinya 'hanya' 108 juta dolar. Nah, Project Hail Mary sepertinya sedang menapaki jejak kesuksesan yang sama.
Respons penonton pun luar biasa positif. Di Rotten Tomatoes, ratingnya mencapai 95%. Sementara di IMDb, skornya 8,4 dari 10. Angka-angka itu jelas menunjukkan kepuasan mayoritas audiens.
Buka saja media sosial, misalnya Twitter (X), maka Anda akan menemukan banyak pujian. Banyak yang terkesima dengan adegan-adegan luar angkasa yang digambarkan dengan sangat mewah dan spektakuler. Apalagi, film ini memang diproduksi khusus untuk layar IMAX.
Bicara soal IMAX, pengalaman menontonnya di studio dengan spesifikasi terbaik benar-benar berbeda. Beberapa penonton beruntung bisa menyaksikannya di layar super lebar dengan aspek rasio 1.43:1 dan rol film 70 mm. Hasilnya? Gambar yang luar biasa detail dan imersif, seolah kita ikut terbang di dalam pesawat ruang angkasa bersama sang protagonis.
Sayangnya, sensasi menonton yang maksimal itu agak sulit didapatkan di Indonesia. Mayoritas layar IMAX di bioskop kita punya aspek rasio standar 1.90:1, yang tidak mendukung format film 70 mm. Jadi, meski tetap seru, ada sedikit 'kurangnya' dibandingkan pengalaman penonton di negara lain.
Artikel Terkait
Dude Herlino dan Alyssa Soebandono Diperiksa Bareskrim Terkait Kasus DSI
Puan Maharani Ingatkan WFH Jumat Harus Jaga Kecepatan Pelayanan Publik
Pertamina dan POSCO Sepakati Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
Apindo Pertimbangkan WFH Respons Kelangkaan BBM, Tekankan Produktivitas Harus Terjaga