Masalah tengkulak di kalangan nelayan itu seperti lingkaran setan. Sudah lama terjadi, dan sulit sekali diputus. Ketergantungan yang tinggi membuat posisi nelayan jadi lemah. Mereka seringkali tak punya pilihan lain.
Nah, untuk menjawab persoalan klasik ini, pemerintah punya satu program: Kampung Nelayan Merah Putih, atau yang biasa disingkat KNMP. Intinya, program ini ingin membangun ekosistem ekonomi yang utuh, dari hulu ke hilir, supaya kesejahteraan masyarakat pesisir benar-benar terdongkrak.
Menurut Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, inilah langkah konkret untuk mengatasi akar masalah.
"KNMP dirancang untuk mengatasi persoalan mendasar. Mulai dari produktivitas yang masih rendah, ketergantungan pada tengkulak, sampai akses pasar yang terbatas," ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Dia menambahkan, program ini diharapkan tak cuma menguatkan sektor riil kelautan, tapi juga jadi penopang ketahanan pangan nasional yang bersumber dari laut.
"Semua aktivitas, mulai dari menangkap ikan, menyimpan, mengolah, sampai menjualnya, akan dikelola dalam satu sistem yang terorganisir dan terintegrasi," jelas Qodari.
Jadi, fasilitas-fasilitas yang dibangun seperti gudang pendingin, pabrik es, bengkel kapal, galangan, sampai kios dan sentra kuliner bukanlah unit yang berdiri sendiri-sendiri. Semuanya dirancang sebagai alat produksi bersama, dikelola secara kolektif oleh nelayan.
Pendekatannya sendiri berbasis klaster. Maksudnya, pembangunannya tidak parsial. Semua saling terhubung antara KNMP Hub dan KNMP Penyangga dalam satu jaringan.
"Dengan begitu, efisiensi dan integrasi kegiatan ekonomi bisa jauh lebih baik dibanding dibangun secara terpisah-pisah," katanya.
Bagaimana Perkembangannya Sampai Saat Ini?
Qodari membeberkan, pembangunan KNMP tahun 2025 sudah berjalan dalam dua tahap. Tahap pertama digulirkan sejak September lalu, mencakup 65 desa di 60 kabupaten/kota se-Indonesia. Anggarannya sekitar Rp 1,2 triliun.
Per akhir Maret 2026, progresnya sudah nyaris tuntas, mencapai 99,23%. Dari 65 lokasi target, 61 di antaranya sudah selesai dibangun.
“Masih ada empat lokasi yang sedang dalam proses penyelesaian,” ucap Qodari. Keempatnya berada di Kabupaten Kapuas Hulu (Kalbar), Sumenep (Jatim), serta Pangandaran dan Garut (Jabar).
Sementara itu, Tahap II dimulai pada Desember 2025 dengan anggaran Rp 660,5 miliar untuk 35 lokasi baru. Hingga Maret lalu, realisasinya baru sekitar 16,68%, dan ditargetkan rampung seluruhnya pada Mei mendatang.
Tapi target jangka panjangnya lebih ambisius lagi.
"Tahun 2026 ini, kami menargetkan lonjakan besar dengan membangun 1.000 lokasi KNMP," tegasnya.
Kalau merujuk data Kementerian Kelautan dan Perikanan, program ini punya potensi produksi yang luar biasa: hingga 2,15 juta ton hasil perikanan per tahun. Angka yang, jika tercapai, akan memberi kontribusi signifikan bagi perekonomian dan ketahanan pangan kita.
Artikel Terkait
Kemendagri Beri Penghargaan Daerah Berprestasi di Sulawesi, Pemda Terbaik Raih Rp3 Miliar
Rano Karno: Festival Tari Internasional Strategi Perkuat Jakarta sebagai Kota Global
Peringatan HLUN 2026 di NTT: Layanan bagi Lansia Dihadirkan di Seluruh 22 Kabupaten/Kota
ESDM Buka Keran Impor Minyak untuk Lemigas, Termasuk dari Rusia