Dari sisi rincian, anggaran MBG yang mencapai Rp249 triliun itu dialokasikan dengan cukup menarik. Mayoritas, sekitar 70 persen, dipakai untuk pengadaan bahan baku pangan. Kebijakan ini bukan cuma soal menyediakan makanan, tapi juga punya efek berganda. Dampak ekonominya langsung terasa oleh petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM di sepanjang rantai pasok.
Di sisi lain, kebutuhan operasional tak ketinggalan. Sekitar 20 persen anggaran disiapkan untuk membiayai hal-hal seperti listrik, sewa kendaraan distribusi, dan yang tak kalah penting: insentif bagi para relawan.
Ngomong-ngomong soal relawan, jumlah mereka sekarang sudah luar biasa. Dadan mengungkapkan, lebih dari 1,2 juta orang tersebar di seluruh Indonesia terlibat dalam SPPG. Untuk jerih payahnya, mereka mendapatkan penghasilan bulanan yang bervariasi, umumnya antara Rp2,4 juta sampai Rp3,2 juta.
"Mayoritas anggaran kami langsung disalurkan untuk program MBG, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,"
tandas Dadan menutup penjelasannya.
Dengan begitu, polemik angka anggaran pun menemui kejelasan. Fokusnya tetap pada penyerapan dana untuk program yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya: Belum Ada Indikasi Keterlibatan Sipil dalam Kasus Penyiraman Andrie Yunus
Ekonom: Belanja Lain-Lain Rp200 Triliun Jadi Bantalan Fiskal di APBN 2026
Instagram Uji Coba Fitur Berlangganan untuk Tonton Stories Diam-diam
Harga BBM Non-Subsidi di Jakarta Masih Stabil, Tak Ada Kenaikan