Soal penyebab pasti, masih gelap. Rico menyebut UNIFIL sendiri yang sedang menyelidiki seluruh kejadian sesuai prosedur standar. Yang jelas, pemerintah Indonesia lewat Kemhan dan TNI tidak tinggal diam. Koordinasi dengan markas UNIFIL digenjot untuk memastikan keselamatan personel yang masih bertugas dan tentu saja, memastikan korban mendapat perawatan terbaik.
“Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” tegas Rico.
Dalam pernyataannya, ia juga menekankan satu hal penting: keselamatan pasukan perdamaian harus jadi prioritas. Semua pihak yang bertikai diharap menghormati hukum humaniter internasional. Jangan sampai personel yang justru datang untuk meredakan ketegangan malah jadi sasaran.
“Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB,” jelas dia.
Ini bukan insiden pertama. Baru sehari sebelumnya, pada Minggu (29/3/2026), seorang prajurit Indonesia lain, Praka Farizal Rhomadhon, juga gugur dalam insiden serupa. Tiga rekannya terluka. Rentetan peristiwa ini tentu saja menyisakan duka mendalam dan pertanyaan besar tentang keamanan para penjaga perdamaian di lapangan.
Artikel Terkait
Ekonom: Belanja Lain-Lain Rp200 Triliun Jadi Bantalan Fiskal di APBN 2026
Kepala BGN Tegaskan Anggaran 2026 Rp268 Triliun, Bukan Rp335 Triliun
Instagram Uji Coba Fitur Berlangganan untuk Tonton Stories Diam-diam
Harga BBM Non-Subsidi di Jakarta Masih Stabil, Tak Ada Kenaikan