Bahkan, teknologi AI masa depan bisa mengganggu perusahaan perangkat keras sekalipun, termasuk Nvidia sendiri. Begitu kata Dennis Dick, seorang trader independen di Triple D Trading.
Transformasi Nvidia memang luar biasa. Dari awalnya produsen chip untuk gim, kini jadi pemasok utama chip AI global. Sejak ChatGPT diluncurkan, sahamnya melesat lebih dari 1.000 persen. Tapi sejarah yang gemilang itu tak menjamin masa depan yang mulus.
Lihat saja perusahaan teknologi lain. Rasio PE Microsoft turun jadi sekitar 20 dari sebelumnya 35 pada Agustus tahun lalu. Pesaingnya di bidang AI, Alphabet, juga mengalami hal serupa, rasionya merosot ke 24 dari hampir 30 di Januari.
Meski begitu, tidak semua pihak pesimis. Art Hogan, Kepala Ahli Strategi Pasar di B. Riley Wealth, menyatakan perusahaannya tetap merekomendasikan Nvidia kepada klien.
Jadi, di tengah keributan pasar dan kekhawatiran yang bertubi-tubi, ada yang melihat ini justru sebagai peluang. Nvidia mungkin sedang murah, atau pasar sedang terlalu khawatir. Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Dua Personel UNIFIL Tewas dalam Ledakan di Lebanon Selatan
KPK Tetapkan Dua Pengusaha Haji sebagai Tersangka Baru Kasus Korupsi Kuota
Veda Ega Pratama Gagal Finis di Moto3 AS Usai Kecelakaan di Lap Keempat
AS Kerahkan Pasukan Khusus ke Timur Tengah di Tengah Ketegangan dengan Iran