Nvidia Catat Rasio PE Terendah Sejak 2019 di Tengah Keraguan Pasar atas AI

- Selasa, 31 Maret 2026 | 00:25 WIB
Nvidia Catat Rasio PE Terendah Sejak 2019 di Tengah Keraguan Pasar atas AI

Harga saham Nvidia sedang terombang-ambing. Kini, saham raksasa chip itu diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (PE) yang paling rendah sejak tahun 2019 jauh sebelum demam AI melanda pasar. Ini bukan sekadar angka biasa. Rasio PE yang merosot itu menandai pergeseran sentimen yang cukup signifikan di tengah ketegangan geopolitik dan keraguan terhadap masa depan investasi teknologi.

Sejak mencapai puncaknya pada Oktober lalu, saham Nvidia sudah anjlok hampir 20 persen. Tekanan jual yang melanda pasar global rupanya ikut menyeretnya. Pemicunya? Kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran bakal memicu lonjakan harga minyak dan inflasi. Kalau sudah begitu, suku bunga global berpotensi naik lagi. Pada perdagangan Jumat pekan lalu, sahamnya kembali melemah 2,2 persen, dan untuk kuartal pertama tahun ini, penurunannya diperkirakan mencapai sekitar 10 persen.

Namun begitu, masalahnya tak cuma soal geopolitik. Ada kegelisahan lain yang mulai menggerogoti kepercayaan investor. Belanja besar-besaran perusahaan teknologi seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon untuk infrastruktur AI dinilai butuh waktu lama untuk benar-benar menghasilkan peningkatan pendapatan. Apakah investasi segila itu akan terbayarkan? Pertanyaan itu menggantung dan menambah beban psikologis pasar.

Gabungan dari semua tekanan itu telah menghapus lebih dari USD 800 miliar dari kapitalisasi pasar Nvidia. Padahal, perusahaan ini masih menunjukkan kinerja fundamental yang kuat. Margin laba kotornya tetap tinggi, sekitar 75 persen, dan proyeksi pertumbuhan pendapatan pun terus dinaikkan oleh para analis. Tapi pasar seperti tak peduli. Saat ini, saham Nvidia diperdagangkan sekitar 19,6 kali perkiraan laba 12 bulan ke depan. Angka itu jadi level terendah dalam tujuh tahun terakhir.

Sebagai pembanding, rasio PE gabungan indeks S&P 500 sendiri ada di kisaran 20. Padahal, perusahaan dengan pertumbuhan tinggi seperti Nvidia biasanya dinilai lebih mahal. Menurut data LSEG, laba Nvidia diproyeksikan melonjak lebih dari 70 persen pada tahun fiskal berjalan, sementara perusahaan di S&P 500 rata-rata hanya tumbuh sekitar 19 persen di tahun 2026. Ada kesenjangan yang menarik di sini.

Di sisi lain, tekanan ini tak hanya dirasakan Nvidia. Seluruh sektor teknologi, terutama perangkat lunak, juga tertekan. Ada kekhawatiran bahwa perkembangan AI justru akan memicu persaingan yang lebih ketat dan memangkas margin keuntungan mereka.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar