Tokyo, Minggu malam kemarin. Udara dingin tak menyurutkan semangat puluhan diaspora Indonesia yang berkumpul. Mereka menunggu kedatangan seseorang: Presiden Prabowo Subianto. Dan bagi Mutiara Mutiruta Miru Binto, malam itu benar-benar tak terlupakan.
Perawat lansia yang telah lama menetap di Jepang ini mengaku jantungnya berdegup kencang. Gugup, tapi juga bahagia campur aduk. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama hanya melihat dari layar, akhirnya ia bisa berdiri hanya beberapa langkah dari orang nomor satu di Indonesia.
“Sebenarnya deg-degan. Di luar ekspektasi bisa bertemu langsung dengan Bapak Presiden,” ujar Mutiara.
Suaranya masih terdengar bergetar saat menceritakan momen itu.
“Ini juga menjadi kesempatan bagi diaspora di Jepang untuk bisa bertemu,” tambahnya.
Momen kebahagiaan itu pun dimanfaatkannya sebaik mungkin. Saat Prabowo menyapa para hadirin satu per satu, Mutiara yang kebetulan berada di posisi paling ujung dan dekat, menyodorkan sebuah buku. Buku berjudul Strategi Transformasi Bangsa: Menuju Indonesia Emas 2045. Dan presiden pun menandatanganinya.
“Arahan juga dari teman-teman, dan kebetulan posisi saya berada di ujung, tepat di dekat Bapak,” kenangnya.
Ia mengakui, situasinya cukup singkat. Mungkin karena kelelahan setelah perjalanan jauh. Tapi itu tak mengurangi kebahagiaannya.
“Mungkin karena Bapak juga lelah dalam perjalanan, jadi saya hanya sempat meminta tanda tangan. Motivasi saya supaya bisa bertemu langsung dengan Bapak,” lanjut Mutiara.
Yang paling ia ingat adalah keramahan sang presiden. Gestur sederhana itu membuatnya merasa dihargai, jauh dari tanah air. “Bapak juga sangat ramah, dan alhamdulillah saya mendapat kesempatan memperoleh tanda tangan,” ungkapnya penuh syukur.
Pertemuan singkat itu, baginya, adalah pengalaman pertama yang sangat personal. Selama ini, sosok pemimpin nasional hanya ia saksikan sebagai gambar di layar kaca atau video daring.
“Ini pertama kali saya bertemu langsung. Selama ini hanya melihat di YouTube atau di TV,” pungkasnya.
Sebuah tanda tangan di buku, sebuah kenangan di hati. Bagi seorang Mutiara dan mungkin banyak diaspora lain di sana, malam di Tokyo itu lebih dari sekadar sambutan protokoler. Itu adalah pengalaman haru yang mengobati sedikit rasa rindu pada Indonesia.
Artikel Terkait
Polres Jakbar Catat Lonjakan Laporan Percobaan Pencurian Kendaraan dalam Sepekan
DPR Dorong Pembentukan Badan Supervisi Khusus dalam RUU Satu Data Indonesia
KSPI Peringatkan Gelombang PHK dan Aturan Outsourcing Baru Ancam Masa Depan Pekerja Indonesia
Presiden Prabowo Beri Taklimat Langsung ke 400 Calon Pemimpin BUMN dalam Program PFLP 2026