Iran Sebut Serangan AS-Israel Sebabkan Pemadaman Listrik Besar di Teheran

- Senin, 30 Maret 2026 | 08:15 WIB
Iran Sebut Serangan AS-Israel Sebabkan Pemadaman Listrik Besar di Teheran

Ibu kota Iran, Teheran, dan beberapa wilayah di sekitarnya tiba-tiba gelap gulita. Pemadaman listrik besar-besaran itu terjadi pada hari Ahad (29/3), dan pemerintah dengan cepat menyebutkan penyebabnya. Menurut Kementerian Energi Iran, pemadaman ini adalah dampak langsung dari serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.

“Beberapa menit lalu, akibat serangan AS dan Israel terhadap pembangkit listrik di Provinsi Teheran serta sejumlah distrik di Teheran dan Provinsi Alborz, listrik terputus,” begitu bunyi pernyataan resmi kementerian yang dikutip oleh Nour News.

“Tim teknis Kementerian Energi sedang berupaya mengatasi masalah ini,” tambahnya.

Laporan dari lapangan memberikan gambaran yang lebih jelas. Tampaknya, pecahan proyektil menghantam sebuah menara listrik tegangan tinggi di Provinsi Alborz. Itulah pemicu awal padamnya listrik. Namun begitu, kerusakan tidak berhenti di situ. Gardu induk di kawasan Dowshan Tappeh juga ikut rusak parah, yang kemudian memperluas dampak pemadaman ke berbagai distrik di Teheran dan kota Karaj.

Serangan ini bukanlah yang pertama. Sebulan sebelumnya, tepatnya pada 28 Februari, AS dan Israel sudah lebih dulu melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Serangan itu menimbulkan kerusakan material yang tidak sedikit dan, yang lebih tragis, merenggut nyawa warga sipil.

Iran tentu saja tidak tinggal diam. Sebagai balasan, mereka kemudian meluncurkan serangan balik ke wilayah Israel dan beberapa fasilitas militer Amerika yang berada di kawasan Timur Tengah. Siklus serang-balas ini semakin memanaskan situasi yang sudah lama memanas.

Di sisi lain, insiden pemadaman kali ini mengingatkan pada peringatan keras Iran sebelumnya. Negeri itu pernah menyatakan akan membalas dengan lebih luas dan keras jika fasilitas pembangkit listriknya menjadi sasaran. Ancaman itu kini terasa semakin nyata dan dekat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar