Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah. Namun, nada kekhawatiran tetap terdengar.
"Keselamatan awak kapal, keamanan kapal dan muatan, itu yang utama. Kami juga minta doa dari masyarakat agar semuanya berjalan baik," tutur Baron.
Namun begitu, pemerintah rupanya tak hanya bergantung pada satu strategi. Menurut Anggia, untuk jaga ketahanan pasokan BBM dalam negeri, diversifikasi sumber energi sedang digenjot. Opsi pasokan minyak mentah dan BBM dari kawasan lain di luar Timur Tengah sedang dibuka lebar-lebar.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Intinya, perluas sumber impor minyak dari berbagai negara. Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang.
Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2025 lalu, Pertamina mengimpor sekitar 135,33 juta barel minyak mentah. Sekitar 19 persennya, atau 25,36 juta barel, bersumber dari Arab Saudi. Selebihnya, datang dari berbagai penjuru: Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, dan lainnya. Ada juga kerja sama jangka panjang untuk pasokan BBM dengan Singapura dan Malaysia.
Jadi, sambil menunggu kapal-kapal itu bisa berlayar dengan tenang, langkah antisipasi jangka panjang juga terus digulirkan. Semua demi satu hal: menjaga agar pasokan energi dalam negeri tetap stabil, apapun yang terjadi di luar sana.
Artikel Terkait
Prabowo dan PM Jepang Sepakati Percepatan Ratifikasi IJEPA
Avenged Sevenfold Gelar Konser Tunggal di JIS Oktober 2026
KPK Panggil Tiga Pengusaha Rokok Terkait Kasus Suap Bea Cukai
TAUD Desak Komnas HAM Rekomendasikan Pengadilan Umum untuk Kasus Penyiraman Andrie Yunus