“Kami ingin memastikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur dan lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi rumah tangga masyarakat,” ujar Safrizal.
“Melalui Cash for Work, warga terlibat langsung dalam pemulihan wilayahnya sekaligus mendapatkan penghasilan instan untuk membantu kebutuhan mereka pasca lebaran,” tambahnya, seperti dikutip Sabtu (28/3/2026).
Mantan Penjabat Gubernur Aceh itu juga menegaskan soal kecepatan. Distribusi hak para pekerja harus tepat waktu dan transparan. Ia memastikan setiap peserta akan menerima uang lelah Rp120.000 plus uang makan Rp45.000 per harinya.
“Prinsip kita sederhana: transparan dan efektif. Dana disalurkan langsung, tunai, ke tangan pekerja di lapangan. Gotong royong itu penting, tapi hak ekonomi masyarakat harus jadi prioritas. Itu yang harus segera cair,” tegas Safrizal.
Jadi, di balik debu dan reruntuhan yang mulai dibersihkan, ada harapan baru yang juga mulai mengalir. Bukan cuma untuk pemulihan tanah, tapi juga untuk menghidupkan kembali denyut ekonomi warga Aceh yang sedang berjuang bangkit.
Artikel Terkait
KPK: 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN, Batas Akhir 31 Maret 2026
Upaya Pencurian Motor Gagal di Kos Makassar Berkat Kehadiran Pemilik
Harga Bawang dan Beras Naik, Cabai Merah Turun Drastis di Pasar Tradisional
Amran Sulaiman Ungkap Doa di Istiqlal dan Proyek Masjid 20 Ribu Jemaah di Makassar