JAKARTA – Pasca-gemerlap Lebaran, Aceh tak berhenti bergerak. Upaya pemulihan pascabencana justru makin digeber. Di lapangan, Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi terus mendorong berbagai pekerjaan fisik, salah satunya lewat program bersih-bersih lingkungan yang melibatkan warga secara langsung. Skemanya? Padat Karya Tunai, atau yang lebih dikenal sebagai Cash for Work.
Ini semua bagian dari komitmen jangka panjang. Tujuannya jelas: memastikan daerah-daerah yang luluh lantak bisa bangkit lebih baik, lebih kuat dari sebelumnya. Menurut rencana, tahap awal program ini digelar di akhir Maret, menyasar dua kabupaten yang cukup parah terdampak: Pidie Jaya dan Aceh Tamiang. Ratusan personel gabungan turun, berbaur dengan masyarakat setempat untuk bersama-sama membersihkan dan merapikan.
Di Pidie Jaya, sekitar 375 orang terlibat. Mereka bukan cuma warga biasa, tapi juga perwakilan dari Satpol PP, Linmas, hingga Relawan Pemadam Kebakaran. Fokus pembersihan ada di Gampong Meunasah Lhok (Kecamatan Meureudu) dan Gampong Meunasah Raya (Kecamatan Meurah Dua). Kegiatan ini berjalan dari 28 Maret sampai 4 April nanti.
Sementara itu, di Aceh Tamiang, aksinya bahkan lebih dulu dimulai. Sekitar 400 warga sudah bergerak sejak 27 Maret lalu, dan baru berakhir pada 2 April. Program ini punya dua sisi manfaat. Selain untuk memulihkan lingkungan, ia juga jadi penyambung hidup. Bagi banyak keluarga, ini adalah suntikan ekonomi yang sangat dibutuhkan selepas hari raya.
Kepala Posko Wilayah Aceh, Safrizal ZA, yang juga menjabat sebagai Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, menekankan hal itu. Baginya, skema Cash for Work dirancang untuk memberi manfaat ganda.
Artikel Terkait
KPK: 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN, Batas Akhir 31 Maret 2026
Upaya Pencurian Motor Gagal di Kos Makassar Berkat Kehadiran Pemilik
Harga Bawang dan Beras Naik, Cabai Merah Turun Drastis di Pasar Tradisional
Amran Sulaiman Ungkap Doa di Istiqlal dan Proyek Masjid 20 Ribu Jemaah di Makassar