Meski dilanda krisis energi yang cukup parah, Filipina ternyata tetap bersikukuh menggelar Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN. Rencananya tak sepenuhnya batal, hanya saja skalanya akan dikecilkan. Fokus utamanya pun bergeser: membahas langsung badai krisis minyak dan gas yang dipicu perang di Timur Tengah.
Sebelum keputusan ini diumumkan, desakan untuk menunda forum tersebut memang cukup kuat. Banyak pihak yang meragukan kapasitas Filipina di tengah situasi sulit. Namun begitu, Presiden Ferdinand Marcos Jr punya argumen lain.
“Kami sudah konsultasi dengan sembilan negara anggota lainnya,” ujar Marcos.
“Pertanyaannya sederhana. Mengingat semua orang sibuk dengan krisis ini, apakah KTT harus ditunda? Justru konsensus yang kami dapat adalah sebaliknya. Sekaranglah saatnya kita mengoordinasikan aksi,” jelasnya.
Jadwalnya sendiri sudah fix. Provinsi Cebu akan menjadi tuan rumah untuk KTT pertama tahun ini, tepatnya pada 7-8 Mei mendatang. Cebu bukan lokasi asing untuk event ASEAN; awal tahun ini mereka juga sudah menyelenggarakan pertemuan para menteri luar negeri dan pariwisata.
Artikel Terkait
INSA Serap Inovasi Otomatisasi dan Dekarbonisasi dari Galangan Kapal Singapura
Prabowo Bahas Proyek Energi dan KEK Baru dengan Investor Legendaris Ray Dalio
Ribuan Suporter Timnas Indonesia Padati GBK Jauh Sebelum Laga Kontra Saint Kitts and Nevis
KAI Logistik Catat Lonjakan 57% Pengiriman Hewan Peliharaan Saat Mudik Lebaran