Keputusan ini diambil di tengah situasi yang benar-benar genting. Baru pada 24 Maret lalu, Marcos secara resmi menetapkan status darurat energi nasional. Ini adalah pertama kalinya dan satu-satunya sejauh ini di kawasan Asia Tenggara. Situasinya memang kritis.
Asia termasuk kawasan yang paling merasakan dampak gejolak di Timur Tengah, terutama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Fakta ini langsung menyentuh urat nadinya Filipina, yang sebagian besar kebutuhan energinya masih bergantung pada impor dari kawasan konflik tersebut.
Lalu bagaimana dengan KTT ASEAN ke-49 yang rencananya digelar di Manila pada November nanti? Menurut Marcos, pembahasan mengenai itu belum dimulai. KTT kedua ini biasanya lebih ramai, karena menghadirkan para pemimpin mitra dialog seperti Jepang, AS, hingga China dan India.
Sebagai ketua ASEAN tahun ini, Filipina sebenarnya punya agenda yang sangat padat. Mereka dijadwalkan menjadi tuan rumah untuk lebih dari 600 pertemuan sepanjang 2026. Salah satu yang paling dinanti adalah negosiasi Kode Etik di Laut China Selatan antara ASEAN dan China proses yang sudah berjalan alot dan penuh ketegangan.
Jadi, meski listrik mungkin bisa padam, diplomasi Filipina rupanya tetap menyala.
Artikel Terkait
INSA Serap Inovasi Otomatisasi dan Dekarbonisasi dari Galangan Kapal Singapura
Prabowo Bahas Proyek Energi dan KEK Baru dengan Investor Legendaris Ray Dalio
Ribuan Suporter Timnas Indonesia Padati GBK Jauh Sebelum Laga Kontra Saint Kitts and Nevis
KAI Logistik Catat Lonjakan 57% Pengiriman Hewan Peliharaan Saat Mudik Lebaran