Tapi jangan salah, kemampuan Rusia untuk mengekspor lebih banyak juga terbatas. Serangan drone Ukraina disebut-sebut telah memangkas setidaknya 40 persen kapasitas ekspor minyak mereka. Jadi, di satu sisi permintaan melonjak, di sisi lain kemampuan produksi dan pengiriman terkendala.
Filipina, misalnya, baru saja membeli dua kargo minyak ESPO Blend dari wilayah Timur Jauh Rusia. Totalnya sekitar 1,5 juta barel. Ini jadi pembelian pertama mereka dalam lima tahun terakhir. Dua kapal tanker, Sara Sky dan Tiger Wings, sudah mengirimkan minyak itu ke Pelabuhan Limay, yang melayani kilang Bataan.
Sementara Thailand, lewat Wakil Perdana Menteri Phiphat Ratchakitprakarn, mengaku sedang melakukan pembicaraan dengan Rusia soal potensi pembelian minyak mentah. Di Sri Lanka, beberapa media lokal juga ramai memberitakan negosiasi pasokan minyak dari Rusia.
Tak ketinggalan, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh baru-baru ini berkunjung ke Moskow. Dalam pertemuannya, dia meminta perusahaan minyak Rusia, Zarubezhneft, untuk meningkatkan investasi dan memasok minyak mentah ke Vietnam dalam jangka panjang. Langkah ini jelas mempertegas betapa banyak negara Asia kini memutar otak mencari sumber energi yang aman dan mungkin lebih terjangkau.
Jadi, peta energi global sedang berubah. Dan Rusia, meski dibebani sanksi dan serangan, rupanya masih menemukan banyak pelanggan yang antre di pintunya.
Artikel Terkait
Mulai 2026, Rusia Larang Ekspor Emas Batangan di Atas 100 Gram
Ekonom: Liburan Beruntun dan Stimulus Pacu Target Pertumbuhan 5,5% di Kuartal I-2026
Kementerian Kebudayaan Terapkan WFH dan Efisiensi Energi Respons Krisis Global
Menteri ESDM Imbau Masyarakat Tenang, Stok BBM Nasional Masih Aman