Ekonom: Liburan Beruntun dan Stimulus Pacu Target Pertumbuhan 5,5% di Kuartal I-2026

- Jumat, 27 Maret 2026 | 05:30 WIB
Ekonom: Liburan Beruntun dan Stimulus Pacu Target Pertumbuhan 5,5% di Kuartal I-2026

Optimisme mengalir untuk perekonomian Indonesia di awal tahun 2026. Wijayanto Samirin, ekonom dari Universitas Paramadina, yakin target pertumbuhan 5,5 persen di kuartal pertama tahun itu bakal tercapai. Kuncinya? Momentum liburan yang beruntun dan sejumlah kebijakan pemerintah yang diharapkan bisa memacu daya beli masyarakat.

Sejak awal tahun, sebenarnya geliat konsumsi sudah terasa. Perayaan Natal dan Tahun Baru membuka catatan. Lalu, di tengah kuartal, giliran Imlek dan Ramadan yang menggerakkan roda ekonomi. Puncaknya, di penghujung Maret, Idulfitri diharapkan menjadi penyempurna. Dua momen besar Nataru dan Lebaran biasanya menyumbang porsi yang tidak kecil, sekitar 30 sampai 40 persen dari total belanja ritel tahunan.

"Belanja masyarakat selama Nataru dan Lebaran akan berdampak sangat tinggi bagi ekonomi kuartal I-2026, sehingga target pertumbuhan 5,5 persen akan tercapai,"

ujar Wijayanto dalam pernyataan tertulisnya, Kamis lalu.

Yang menarik, dampak ekonominya ini diyakini bakal tersebar merata. Kenapa? Karena tradisi mudik. Para perantau cenderung membelanjakan uangnya di kampung halaman. Alhasil, bukan hanya kota-kota besar yang bergeliat, tapi juga daerah-daerah.

"Lebaran selalu mempunyai dampak besar bagi geliat ekonomi, termasuk ekonomi daerah yang mendapatkan guyuran dana dari para pemudik,"

katanya menambahkan.

Di sisi lain, pemerintah juga tak tinggal diam. Ada sejumlah stimulus yang digelontorkan. Salah satunya adalah Bonus Hari Raya untuk para driver ojol. Memang, nilai Rp400 miliar mungkin terlihat kecil jika dibandingkan skala ekonomi nasional. Tapi bagi para penerimanya, ini jelas angin segar.

"Nilai BHR sebesar Rp400 miliar mungkin belum signifikan jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi Indonesia. Kendati demikian, bagi driver ojol, ini merupakan bantuan yang luar biasa bermanfaat dan pantas diapresiasi,"

tutur Wijayanto.

Pandangan serupa datang dari Kementerian Koordinator Perekonomian. Mereka menekankan bahwa mudik Lebaran bukan sekadar perpindahan manusia, tapi punya efek berantai yang kuat. Mulai dari UMKM, pedagang kaki lima, hingga jasa transportasi, semuanya kebagian rezeki.

"Dengan potensi yang besar tersebut, sinergi kebijakan serta penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk mengoptimalkan momentum mudik Lebaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,”

jelas Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto.

Angkanya pun cukup menggigit. Stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, bansos hampir Rp12 triliun untuk jutaan keluarga, plus diskon tarif transportasi nyaris Rp1 triliun. Semua ini ditujukan untuk mendorong konsumsi yang kontribusinya terhadap PDB memang dominan, mencapai lebih dari setengah.

Jadi, dengan kombinasi momentum alamiah dan suntikan kebijakan, harapan untuk pertumbuhan kuartal I yang kuat dan merata memang punya dasar. Tinggal menunggu realisasinya di lapangan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar