Dia mengakui memang ada pesan yang dikirim Washington melalui berbagai perantara. Tapi, bagi Araghchi, pertukaran semacam itu jauh dari bisa disebut sebagai negosiasi yang sesungguhnya.
Ada perkembangan menarik lain dari laporan Wall Street Journal. Disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran bersama Ketua Parlemennya, Mohammad Bagher Ghalibaf, untuk sementara waktu dihapus dari daftar target AS dan Israel. Langkah ini bisa dibaca sebagai sinyal, atau mungkin justru bagian dari dinamika rumit di balik layar.
Gelombang ketegangan ini tentu berimbas pada pasar. Harga minyak sempat terperosok, tapi kemudian berhasil bangkit cukup signifikan dari titik terendahnya. Ambil contoh kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei. Angkanya terakhir turun sekitar 1,6 persen ke level USD102,77 per barel. Meski turun, posisi itu masih jauh di atas level sekitar USD70 sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.
Kekhawatiran para pedagang pun nyata. Mereka waswas melihat dampak ekonomi dari perang yang berkepanjangan. Tekanan itu sudah terlihat dari data Indeks Manajer Pembelian (PMI) S&P Global yang merosot ke level terendah dalam sebelas bulan. Angka itu jelas menunjukkan tekanan pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, didorong oleh kenaikan harga akibat guncangan energi dari medan perang.
Semuanya kini bergantung pada langkah berikutnya. Apakah jalan dialog benar-benar tertutup, atau justru ini bagian dari tawar-menawar alot yang biasa terjadi dalam diplomasi global.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran 2026: Kedatangan Penumpang di Stasiun Jakarta Capai 52.471 Orang
OJK Prediksi Dua hingga Tiga Bank Naik Kelas ke KBMI 4 pada 2026
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Beckham Putra Siap Perjuangkan Tempat
Marshanda Dukung Proses Pencarian Jati Diri Putrinya Lepas Hijab